Pencarian

Hyundai Kantongi Insentif EV dari Indonesia, Korsel Minta Regulasi Baterai Nikel Dilonggarkan

Kamis, 27 Agustus 2026 • 12:05:32 WIB
Hyundai Kantongi Insentif EV dari Indonesia, Korsel Minta Regulasi Baterai Nikel Dilonggarkan
Konselor Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Uhm Taeho, menyampaikan permintaan insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai NMC dalam dialog bilateral di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

LINKARFAKTA.COM — Konselor Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Uhm Taeho, mengungkapkan bahwa dorongan tersebut menjadi salah satu topik utama dalam dialog bilateral kedua negara. Hal ini disampaikannya dalam agenda Workshop Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea, Rabu (26/8/2026).

“Untuk mendukung bisnis Korea yang beroperasi di sini, dan jika kita melihat manfaat bersama dari investasi kendaraan listrik Hyundai di Indonesia, kami berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan insentif,” ujar Uhm di Jakarta.

Baterai NMC Lebih Mahal, Korsel Minta Kompensasi Regulasi

Uhm menegaskan bahwa seluruh pabrikan EV asal Korea Selatan, termasuk Hyundai dan Kia, menggunakan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC). Pilihan teknologi ini berbeda dengan mayoritas pabrikan China yang memakai lithium ferro phosphate (LFP).

Menurutnya, baterai NMC memiliki keunggulan signifikan dalam hal daur ulang dan dampak lingkungan. Namun, konsekuensinya harga pokok produksi menjadi lebih tinggi dibandingkan LFP yang kini mendominasi pasar entry-level.

“Di Negeri Ginseng, baterai berbasis nikel mudah didaur ulang dan lebih ramah lingkungan. Meski demikian, harganya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan LFP,” jelasnya.

Investasi Hyundai Jadi Landasan Negosiasi

Keberadaan pabrik Hyundai di Cikarang, Bekasi, menjadi senjata utama negosiasi Seoul. Pabrik dengan kapasitas produksi tahunan hingga 150.000 unit tersebut merupakan fasilitas perakitan EV terbesar di Asia Tenggara dan menjadi basis ekspor Hyundai ke berbagai negara.

Dengan nilai investasi yang mencapai miliaran dolar, pemerintah Korsel menilai wajar jika Jakarta memberikan perlakuan khusus bagi teknologi baterai yang mereka bawa. Skema insentif yang diminta tidak hanya terbatas pada subsidi pembelian, tetapi juga mencakup kemudahan perizinan dan rantai pasok lokal untuk komponen baterai.

Indonesia sendiri memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang menjadi bahan baku utama baterai NMC. Sinergi antara tambang nikel lokal dan teknologi daur ulang Korea Selatan dinilai bisa menciptakan ekosistem EV yang lebih mandiri di kawasan.

Dampak ke Konsumen dan Masa Depan Insentif EV

Permintaan ini berpotensi mengubah peta persaingan EV di Indonesia. Jika insentif diberikan, harga jual model Hyundai seperti Ioniq 5 dan Kona Electric bisa menjadi lebih kompetitif di pasar domestik.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah gencar menarik investasi dari pabrikan China yang identik dengan baterai LFP. Keputusan untuk mengakomodasi permintaan Korsel akan menentukan arah kebijakan hilirisasi nikel nasional, apakah tetap netral atau mulai memihak pada teknologi tertentu.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian ESDM belum memberikan tanggapan resmi terkait usulan insentif spesifik untuk baterai NMC tersebut. Negosiasi lanjutan diperkirakan akan berlangsung dalam forum bilateral berikutnya.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks