LINKARFAKTA.COM — Gugatan yang diajukan pada 2023 ini akhirnya memasuki persidangan. Para pengacara dari California, Colorado, New Jersey, dan Kentucky akan berhadapan dengan tim kuasa hukum Meta di pengadilan California. Jika Meta kalah, platform media sosial yang dipakainya setiap hari bisa berubah total dari yang dikenal sekarang.
Koalisi jaksa agung menuntut Meta menghapus sejumlah fitur yang dinilai dirancang untuk membuat pengguna, terutama anak di bawah umur, betah berlama-lama di platform. Fitur-fitur tersebut mencakup pengguliran tanpa batas (infinite scrolling), video yang terputar otomatis, konten yang hilang seperti Instagram Stories, filter kecantikan, hingga feed yang sepenuhnya dikendalikan algoritma.
Mengapa Gugatan Ini Disebut Momen Big Tobacco bagi Media Sosial
Para pakar industri membandingkan kasus ini dengan tuntutan hukum terhadap perusahaan tembakau di era 1990-an. Saat itu, perusahaan rokok dipaksa membayar miliaran dolar karena menyesatkan publik soal bahaya produknya, dan pengaruh mereka anjlok drastis setelahnya.
"Persidangan ini berpotensi menjadi akhir dari media sosial seperti yang kita kenal selama ini," kata Kate Winick, analis di Forrester. "Putusan apa pun yang memberatkan Meta akan menetapkan preseden sangat besar. Hasilnya kemungkinan akan serupa dengan kasus Big Tobacco: produk tersebut akan lebih sulit diakses oleh kaum muda dan pesan budaya seputar media sosial akan berubah."
Meta sendiri menyatakan menghadapi ancaman denda triliunan dolar yang bisa merusak model periklanannya. Namun dampaknya diprediksi jauh lebih luas dari satu perusahaan saja.
Meta Dituduh Sembunyikan Data Pengguna di Bawah Umur
Wakil Jaksa Agung California, Megan O'Neill, menegaskan Meta lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan pengguna. Perusahaan disebut menyembunyikan realitas pengguna di bawah 13 tahun di platformnya.
"Model bisnisnya adalah untuk menjerat pengguna, menahan selama mungkin, memanen data, dan kemudian menyembunyikan kebenaran dari publik," ujar O'Neill dalam pernyataannya di persidangan.
Gugatan ini juga menyebut Meta melanggar UU Perlindungan Privasi Online Anak serta berbagai UU perlindungan konsumen di tingkat federal dan negara bagian.
YouTube dan Snap Bisa Jadi Target Berikutnya
Jaksa Agung California Rob Bonta mengatakan Meta hanyalah yang pertama dalam antrean. Terdapat gugatan tertunda terhadap YouTube dan Snap atas kerugian serupa yang ditimbulkan pada pengguna muda.
"Siapa yang pertama? Siapa terakhir? Idealnya, mereka semua diproses bersamaan. Itu tidak mungkin. Di dunia yang ideal, mereka semua akan berkomitmen pada reformasi dan perubahan yang sama untuk seluruh anak serta menjaga mereka tetap aman," kata Bonta.
Sebelumnya, Meta dan YouTube dinyatakan lalai dalam persidangan besar terkait kecanduan media sosial di Los Angeles. Penggugatnya adalah seorang wanita muda yang mengaku kecanduan aplikasi sejak kecil, menyebabkan depresi dan pemikiran bunuh diri.
Winick memprediksi platform lain dengan basis pengguna muda, seperti Snap, kemungkinan akan menyesuaikan diri dengan perubahan yang dipaksakan pada Meta. "Kecil kemungkinan hal ini akan membunuh industri tersebut secara permanen, tapi akan signifikan mengurangi penggunaan dalam jangka panjang karena pengguna muda tidak lagi diperkenalkan pada platform-platform itu," tambahnya.