LINKARFAKTA.COM — Potensi optimalisasi itu terungkap dalam peluncuran DSI di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (24/8). Dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS, nilai tersebut dihitung dari telah integrasi data ekspor nasional dan analisis pada tingkat transaksi yang selama ini belum tertangkap maksimal dalam pencatatan devisa.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan DSI tidak akan mengambil alih fungsi regulator. Seluruh perizinan, pengaturan, dan pengawasan tetap berada di kementerian atau lembaga berwenang.
"DSI ini bukan bertujuan menambah lapisan birokrasi, atau bukan pula menggantikan peran dari regulator. Ini harus kita garis bawahi. Seluruh fungsi perizinan, pengaturan, dan pengawasan tetap berada pada kementerian atau lembaga yang berwenang," ujar Rosan dalam acara peluncuran DSI.
Integrasi Data dan Pelacakan Kapal Jadi Kunci Awal
Implementasi DSI berjalan bertahap. Fase pertama berfokus pada integrasi data ekspor nasional dan analisis transaksi. Pada tahap berikutnya, DSI akan memperluas kemampuan pemantauan dan verifikasi, termasuk melalui pelacakan kapal, validasi negara tujuan, serta rekonsiliasi devisa hasil ekspor (DHE).
Langkah ini menyasar celah yang selama ini membuat nilai ekspor riil komoditas tidak tercatat optimal. Dengan verifikasi berlapis, pemerintah berharap selisih antara dokumen ekspor dan realisasi devisa dapat dipersempit.
Perantara Tunggal Tanpa Mengganggu Hubungan Komersial
DSI nantinya berperan sebagai perantara tunggal untuk komoditas yang masuk dalam mandatnya. Meski demikian, hubungan komersial antara penjual dan pembeli yang telah berjalan tetap dipertahankan. Model ini dirancang agar alur dagang yang sudah ada tidak terganggu, tetapi data dan nilai transaksinya bisa dipantau lebih ketat.
Rosan menambahkan, tujuan akhir dari seluruh skema ini adalah memastikan nilai ekonomi sumber daya alam strategis Indonesia tercatat dan dioptimalkan bagi kepentingan perekonomian nasional.
"Pada akhirnya, tujuan DSI adalah agar nilai ekonomi dari sumber daya alam strategis Indonesia dapat dicatat dan dioptimalkan dengan lebih baik bagi kepentingan perekonomian nasional dan masyarakat Indonesia," pungkasnya.
Fokus pada Tiga Komoditas Andalan Ekspor
Pemilihan tiga komoditas awal bukan tanpa alasan. Batu bara, CPO, dan ferroalloy merupakan penyumbang devisa ekspor terbesar dari sektor sumber daya alam. Fluktuasi harga internasional dan praktik transfer pricing menjadi dua tantangan utama yang kerap menggerus potensi penerimaan negara.
- Batu bara: Komoditas energi utama dengan volume ekspor jutaan ton per tahun.
- CPO: Minyak sawit mentah yang rantai pasoknya melibatkan banyak pedagang perantara.
- Ferroalloy: Produk turunan nikel yang permintaannya meningkat seiring industri baterai kendaraan listrik.
Ketiga sektor ini dinilai memiliki potensi optimalisasi terbesar dalam jangka pendek. Dengan pemantauan yang lebih baik, DSI menargetkan tambahan penerimaan devisa yang signifikan bagi kas negara dalam beberapa tahun ke depan.