BALIKPAPAN — Eskalasi fenomena El Nino tahun ini disebut-sebut sebagai yang terkuat dalam tiga dekade terakhir di Kalimantan Timur. Data satelit BMKG menunjukkan tren peningkatan hotspot yang masih berpeluang terus bertambah karena bulan Agustus belum berakhir.
Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Muhsinin, mengungkapkan potensi penambahan titik panas masih terbuka lebar. Kaltim dinilai belum sepenuhnya berada di fase puncak kemarau kering yang dipicu El Nino.
Puncak El Nino Diproyeksikan Terjadi September-Oktober
"Dan ini masih ada tujuh hari lagi sebelum kita menutup bulan Agustus. Jadi, kemungkinan angkanya akan lebih besar daripada itu," ujar Huda pada Selasa (25/8).
BMKG memproyeksikan puncak El Nino baru akan terjadi pada September dan Oktober mendatang. Fenomena ini diperkirakan terus membayangi wilayah Kaltim hingga awal tahun depan sebelum perlahan melandai pada periode Desember, Januari, dan Februari.
"Jadi ini kedepan semakin melandai, tapi di bulan depan kita masih harus terus waspada," tuturnya.
Konsentrasi Titik Panas: Berau, Kutim, dan Kukar
Berdasarkan pemantauan satelit, sebaran titik panas terbanyak saat ini terkonsentrasi di sejumlah kabupaten. Tiga wilayah dengan konsentrasi tertinggi adalah Berau, Kutai Timur, serta Kutai Kartanegara.
Lonjakan 13.544 titik tersebut menjadi pembanding nyata dengan fenomena serupa pada 2015 silam. Saat itu, gelombang El Nino kuat hanya memicu 9.793 titik panas di seluruh wilayah Kaltim.
Hotspot Tak Selalu Berarti Karhutla
Kendati angka tersebut terbilang tinggi, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak langsung panik setiap kali mendeteksi kemunculan hotspot. Huda menambahkan, citra satelit mendeteksi hotspot berdasarkan perbedaan suhu ekstrem terhadap lingkungan sekitar.
Titik panas yang terdeteksi tidak selalu bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aktivitas pertambangan batu bara maupun pantulan panas dari atap bangunan juga dapat terdeteksi sebagai hotspot oleh satelit.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah konsentrasi titik panas, sembari menunggu proyeksi puncak El Nino yang masih akan terjadi pada dua bulan ke depan.