LINKARFAKTA.COM — China pernah menjadi ladang emas bagi korporasi AS berkat populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa. Kini, posisi itu tergerus. Data yang dihimpun CNBC, Jumat (21/8), menunjukkan bisnis Nike di China mencapai level terendah dalam delapan tahun pada musim semi 2026, kontras dengan pertumbuhan industri pakaian olahraga lokal yang lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Kepala Praktik Ritel Global Bain & Company Aaron Cheris menilai banyak perusahaan AS gagal menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar setempat. "China adalah pasar yang sangat besar. Angkanya begitu besar dan tumbuh begitu cepat sehingga semua merek ingin mencoba masuk ke sana. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut belum menyesuaikan diri dengan pasar lokal serta perubahan struktur dan kebutuhannya," kata Cheris kepada CNBC.
Harga Premium Tak Lagi Sepadan di Mata Konsumen China
Cheris menjelaskan konsumen China kini semakin kritis terhadap selisih harga produk impor dibandingkan barang lokal. Merek domestik dinilai memiliki siklus inovasi lebih cepat dan jaringan distribusi yang lebih kuat di dalam negeri.
"Premi harga untuk produk-produk Amerika sering kali tidak sepadan bagi konsumen China. Merek-merek China memiliki siklus inovasi yang cepat dan distribusi yang lebih baik di kawasan tersebut," ujarnya.
GM dan Ford Terjepit di Sektor Otomotif, Starbucks Dikepung Luckin Coffee
Tekanan serupa dirasakan industri otomotif. Berdasarkan data S&P Global Mobility, pangsa pasar tiga produsen besar Detroit—GM, Ford Motor, dan Chrysler—merosot dari 21,4% pada 2019 menjadi sekitar 15,7% pada 2025. Pendapatan GM di China yang sempat mencapai US$2 miliar per tahun pada 2018 berubah menjadi kerugian selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025.
Ford juga mencatat penurunan penjualan 32,4% sepanjang 2018-2022. Perusahaan kini memindahkan produksi model Lincoln dari China ke AS mulai 2030. Di sektor F&B, Starbucks yang masuk China daratan sejak 1999 menghadapi persaingan ketat dari Luckin Coffee. Jumlah gerai Luckin kini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Starbucks dengan harga lebih murah.
Lululemon dan KFC Justru Tumbuh, Ini Kuncinya
Tidak semua merek AS meredup. Lululemon, Ralph Lauren, dan Kentucky Fried Chicken (KFC) masih mencatat kinerja positif karena menyesuaikan strategi dengan pasar lokal. Cheris menegaskan keberhasilan merek asing bergantung pada keseriusan membangun kapasitas di China.
"Kuncinya adalah merek mana yang cukup serius dan benar-benar membangun kemampuan lokal yang memadai, bukan sekadar membawa apa yang telah mereka bangun secara global lalu mencoba menjualnya kepada konsumen China," pungkasnya. Pelajaran bagi korporasi global: adaptasi lokal adalah harga mati untuk bertahan di pasar terbesar kedua dunia ini.