JAWA TIMUR — Langkah ini menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk bersaing di pasar karbon global. Sebab, produk biochar yang bersertifikat akan lebih mudah diterima pembeli internasional dan bernilai jual lebih tinggi.
Ketua Umum ABII, Hashim Djojohadikusumo, menyebut permintaan global terhadap biochar kini sangat tinggi. Namun, hanya segelintir negara yang mampu memasoknya, dan Indonesia termasuk di dalamnya.
“Kita tidak memiliki banyak pasokan, tapi semua orang ingin membeli biochar kita. Bahkan konsumen Jepang dan perusahaan Jepang ingin membeli biochar kita. Arab Saudi juga menginginkan biochar kita, mereka ingin menanam miliaran pohon di gurun dan iklim yang sangat kering, sehingga mereka membutuhkan retensi kelembapan yang dapat diberikan oleh biochar kita,” jelas Hashim.
Mengapa Sertifikasi IDSurvey Krusial?
Menurut Hashim, kualitas adalah segalanya. Jika produksi biochar Indonesia memenuhi standar yang ditetapkan IDSurvey, produk tersebut otomatis dikenal sebagai barang berkualitas dan terpercaya di mata dunia.
“Kita harus memproduksi, dan harus memproduksi dengan kualitas yang tepat. Mari kita jaga kualitasnya. Itulah mengapa saya rasa produk dari Indonesia dikenal sebagai produk berkualitas baik,” ujarnya.
Direktur Utama IDSurvey, Arisudono Soerono, menegaskan pihaknya siap memperkuat infrastruktur mutu. Kerja sama ini mencakup pengembangan standar nasional, pembangunan laboratorium biochar bertaraf internasional, hingga skema sertifikasi.
“Pengembangan laboratorium dan standar nasional yang kredibel akan meningkatkan kepercayaan pasar serta mendukung daya saing biochar Indonesia di tingkat internasional,” jelas Arisudono.
Biochar Tak Lagi Sekadar Riset
ABII mencatat industri ini telah bertransformasi dari tahap riset dan proyek percontohan menjadi ekosistem yang melibatkan pemerintah, industri, dan akademisi. Fasilitas produksi biochar kini menyebar ke sedikitnya enam provinsi baru, menandakan fase pertumbuhan yang lebih matang.
Executive Director ABII, Phil Rickard, menyebut perkembangan ini adalah buah kolaborasi panjang. Kini, biochar tidak hanya menjadi teknologi, tetapi sebuah industri yang sedang menuju ekosistem utuh.
“Melalui kolaborasi dengan pemerintah, BUMN, mitra internasional, dan seluruh anggota ABII, kami percaya Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemimpin biochar dan carbon removal di tingkat global,” kata Phil.
Dampak Langsung untuk Petani
Selain pasar ekspor, ABII juga mendorong pemanfaatan biochar untuk pertanian dalam negeri. Bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), ABII mengintegrasikan biochar dengan praktik Alternate Wetting and Drying (AWD).
Metode ini bertujuan meningkatkan produktivitas padi sekaligus menekan emisi metana dari sawah. Inisiatif ini sejalan dengan agenda pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture) yang sedang digalakkan pemerintah.
ABII juga aktif menyusun roadmap biochar nasional, pemetaan industri, serta implementasi Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Langkah ini memperkuat tata kelola karbon Indonesia dan memastikan setiap proyek biochar terdokumentasi dengan baik.
Dengan fondasi standar mutu yang kini tengah dibangun, Indonesia berpeluang besar memimpin pasar biochar dunia—bukan sekadar sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai pemain utama dengan produk bersertifikat yang diakui global.