LINKARFAKTA.COM — Jakarta, KompasOtomotif – International Battery Summit (IBS) 2026 resmi digelar di JIExpo Convention Centre & Theatre, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Dalam sambutan pembukaannya, Ridha Yasser yang menjabat Asisten Deputi Energi dan Infrastruktur Telekomunikasi Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah menyampaikan bahwa industri baterai nasional tidak bisa hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya mineral.
Menurut Ridha, penguasaan material hanyalah "tiket masuk" untuk bersaing di level global. Setelah tiket didapat, tantangan berikutnya jauh lebih berat: membangun ekosistem yang mampu mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Enam Infrastruktur Kunci yang Wajib Terhubung
Ridha memaparkan bahwa keberhasilan industri baterai sangat bergantung pada integrasi enam kelompok infrastruktur utama. Tanpa keterhubungan antar elemen ini, rantai pasok dipastikan tersendat dan biaya produksi membengkak.
- Infrastruktur listrik: Pasokan energi yang cukup, stabil, dan andal untuk menggerakkan pabrik pengolahan dan manufaktur.
- Kawasan industri: Lahan siap pakai dengan utilitas dan fasilitas pendukung yang menghubungkan proses pengolahan material hingga produksi baterai dan kendaraan listrik.
- Logistik: Sistem transportasi yang menghubungkan area tambang, fasilitas pengolahan, pelabuhan, dan pasar.
- Konektivitas wilayah dan antarpulau: Jaringan transportasi yang memadai untuk negara kepulauan seperti Indonesia.
- Infrastruktur air dan lingkungan: Ketersediaan air baku serta pengelolaan limbah yang sesuai standar.
- Infrastruktur digital: Jaringan komunikasi data untuk menunjang efisiensi operasional industri.
"Tidak peduli seberapa berkembang teknologi baterai, elektrik, air, industri, jaringan, kapal, logistik, dan konektivitas penting bagi industri untuk berkembang," ujar Ridha dalam paparannya.
Pasar Domestik Jadi Penopang Utama Ekosistem
Salah satu kekuatan yang disorot dalam IBS 2026 adalah pertumbuhan pasar kendaraan listrik dalam negeri. Data per Juni 2026 mencatat populasi EV di Indonesia telah mencapai 493.307 unit, sebuah angka yang menunjukkan pergeseran dari sekadar potensi menuju pasar riil.
Kapasitas produksi nasional pun dinilai sudah sangat siap. Indonesia saat ini memiliki kemampuan merakit hingga 410.000 mobil listrik, 2,5 juta sepeda motor listrik, dan 7.500 bus listrik per tahun. Total investasi yang telah mengalir ke ekosistem ini tercatat sekitar Rp 30,5 triliun.
Ridha menegaskan bahwa industri baterai tidak bisa bergantung selamanya pada ekspor. Keberlanjutan rantai nilai membutuhkan permintaan kuat dari pasar domestik, baik untuk kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi.
Baterai Tak Hanya untuk Mobil Listrik
Permintaan baterai ke depan diprediksi tidak hanya datang dari sektor otomotif. Pertumbuhan energi terbarukan yang semakin masif membutuhkan kapasitas penyimpanan energi agar pasokan listrik tetap stabil.
"Ketika elektrifikasi dan energi terbarukan terus berkembang, kita perlu meningkatkan kapasitas untuk menyimpan energi," kata Ridha.
Artinya, pasar baterai akan meluas ke bus listrik, kendaraan logistik, sektor industri, hingga sistem penyimpanan energi skala besar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia akan menjadi bagian dari era baterai, melainkan seberapa besar porsi rantai nilai yang mampu dibangun di dalam negeri.