KATHMANDU — Duka mendalam menyelimuti kawasan perbatasan Nepal dan China pascabanjir bandang yang dipicu pecahnya gletser Gunung Langtang Lirung pada 26 Agustus lalu. Di Nepal, Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana mencatat 1.259 jenazah telah ditemukan, namun 5.083 orang lainnya belum diketahui nasibnya.
Angka tersebut termasuk 583 warga asing yang ikut terseret arus. Sementara di sisi China, 21 orang tewas dan 541 lainnya hilang; sebanyak 261 di antaranya merupakan warga asing. Total korban tewas di kedua negara kini mencapai 1.280 jiwa.
Harapan Menipis, Keluarga Gelar Ritual Tanpa Jenazah
Kepasrahan terpaksa dilakukan warga di Rasuwa, salah satu daerah terdampak paling parah. Mereka membuat patung dari rumput khas—kaas-kush—sebagai pengganti jenazah, lalu membakarnya dalam upacara kremasi massal di Kuil Pashupati Aryaghat, Kathmandu, Rabu (2/9) lalu.
Upacara ini merupakan ritual pelepasan jiwa karena pihak keluarga menyadari jenazah kerabat mereka mustahil ditemukan kembali. Di Chitwan, otoritas setempat bahkan membakar jasad tak dikenal setelah mengambil sampel DNA untuk identifikasi, karena kapasitas penyimpanan sudah tidak memadai.
Bencana ini juga menyulitkan ritual pemakaman layak. Banyak korban kehilangan rumah sekaligus tempat pelaksanaan upacara adat, sehingga kesulitan mencari fasilitas publik memadai untuk prosesi terakhir.
Operasi Kemanusiaan Terkendala Akses dan Komunikasi
Sejumlah 21.400 personel militer dan kepolisian terus dikerahkan untuk mencari korban. Namun upaya mereka terhambat masih terputusnya jalan utama, aliran listrik, dan jaringan komunikasi di lembah-lembah terdampak yang menghubungkan Rasuwa, Nuwakot, Dhading, hingga Lembah Kathmandu.
Tim penyelamat kini fokus mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan menjaga kebersihan lokasi pengungsian untuk menekan risiko penyakit menular pascabencana.
Banjir bandang diawali pecahnya gletser di ketinggian 5.200 meter dari Gunung Langtang Lirung. Longsoran es dan bebatuan kemudian menyapu permukiman serta mengubur titik lintas batas Gyirong di barat daya Kawasan Otonom Xizang, Tibet—menjadikan peristiwa ini salah satu bencana hidrometeorologi terburuk di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir.