PADANG — Konsentrasi partikel halus yang terpantau dari stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Padang Pasir di kawasan Kantor Gubernur Sumbar menunjukkan PM2,5 masih dominan. Namun, angka indeks standar pencemar udara (ISPU) berada di rentang 55,9–58,4 atau dalam kategori sedang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumbar, Kuartini Deti Putri, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada karena kondisi dapat berubah sewaktu-waktu.
19 Titik Panas Terpantau di Lima Kabupaten Sumbar
Hasil pemantauan periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB mencatat 19 hotspot di wilayah Sumbar. Titik panas itu tersebar di Kabupaten Dharmasraya lima titik, Limapuluh Kota satu titik, Pasaman tiga titik, Pesisir Selatan lima titik, dan Sijunjung lima titik.
"Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat 19 titik hotspot yang tersebar di lima kabupaten, yaitu Dharmasraya, Limapuluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, dan Sijunjung," papar Kuartini saat dihubungi di Padang.
2.422 Titik Panas di Sumsel Dekati Wilayah Sumbar
Selain titik panas lokal, data SIPONGI untuk periode yang sama mencatat jumlah signifikan di provinsi tetangga. Sumatera Selatan mendominasi dengan 2.422 titik panas, disusul Jambi 301 titik, Riau 229 titik, Sumatera Utara 46 titik, dan Bengkulu 13 titik.
Keberadaan titik panas di area tersebut berisiko terbawa angin menuju Sumbar. Namun, kata Kuartini, pengaruhnya terhadap kualitas udara sangat bergantung pada dinamika cuaca, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer saat kejadian.
Gubernur Mahyeldi: Koordinasi Lintas Provinsi Perlu Diperkuat
Di tengah meningkatnya kasus ISPA yang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus di Kota Padang, Mahyeldi menekankan pentingnya kerja sama antar daerah. Ia mengajak pemerintah provinsi tetangga untuk memperkuat sinergi dalam penanganan karhutla agar dampaknya tidak meluas.
"Kita berharap koordinasi dan sinergi antar seluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir," ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (4/9/2026).
Imbauan Pakai Masker dan Larangan Membakar Lahan
Mahyeldi meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap masih menyelimuti. Jika terpaksa keluar rumah, ia menyarankan penggunaan masker, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan gangguan pernapasan.
"Untuk masyarakat, kita imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker sebagai perlindungan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan," katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pembakaran sampah atau lahan yang bisa menambah sumber asap baru. "Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah dan tidak melakukan pembakaran lahan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan kualitas udara Sumatera Barat agar tetap sehat dan nyaman," tegas Mahyeldi.
ISPU PM2,5 Masih Sedang, DLH Minta Warga Pantau Info Resmi
Data DLH Sumbar menunjukkan konsentrasi PM2,5 rata-rata 19,88 µg/m³ dan maksimum 21,71 µg/m³, dengan ISPU indikatif masih di kategori sedang. Meski belum masuk tidak sehat, Kuartini mengingatkan kelompok sensitif tetap perlu berhati-hati jika beraktivitas di luar ruangan.
Ia meminta warga mengikuti perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah serta menghindari aktivitas pembakaran terbuka, baik sampah maupun lahan. "Masyarakat diharapkan turut berperan dalam menjaga kualitas udara," pungkasnya.