Pencarian

5 Fakta Peran Orangutan bagi Ekosistem Hutan Tropis yang Terancam Karhutla di Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2026 • 03:17:02 WIB
5 Fakta Peran Orangutan bagi Ekosistem Hutan Tropis yang Terancam Karhutla di Indonesia
Orangutan Kalimantan terlihat beraktivitas di kanopi hutan yang menjadi habitat alaminya.

JAKARTA — Ancaman karhutla yang terjadi berulang setiap tahun membuat ruang gerak orangutan semakin terisolasi. Asap tebal yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu kesehatan satwa dilindungi ini, tetapi juga memaksa mereka berpindah mendekati permukiman warga, sebuah situasi yang berbahaya bagi kedua belah pihak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya ada lima titik karhutla besar yang terjadi pada 25 hingga 26 Agustus 2026. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran tidak pernah berhenti di asap dan lahan gosong, melainkan merambah ke rantai kehidupan di dalam hutan.

Mengapa Keberadaan Orangutan Krusial bagi Hutan?

Orangutan bukan sekadar primata terbesar di Asia. Berdasarkan data Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, susunan DNA hewan ini mirip dengan manusia, yang mengindikasikan tingkat kecerdasan tinggi dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Sebagai satwa frugivora atau pemakan buah, orangutan berperan sebagai penyebar biji utama. Setiap hari mereka mengonsumsi buah, daun, kulit kayu, hingga serangga. Biji dari tumbuhan yang mereka makan tersebar melalui kotoran ke berbagai wilayah hutan. Jika orangutan hilang, sejumlah spesies tumbuhan yang bergantung pada primata ini untuk berkembang biak ikut terancam punah.

Spesies Payung yang Melindungi Ribuan Flora dan Fauna

Para konservasionis menyebut orangutan sebagai spesies payung. Artinya, upaya melindungi orangutan secara tidak langsung melindungi habitat bagi sekitar 20 ribu spesies flora dan fauna lain yang hidup di kawasan yang sama. Perlindungan terhadap hewan ini berarti menjaga seluruh ekosistem di sekitarnya tetap utuh.

Saat bergerak dan membangun sarang di antara pepohonan, orangutan kerap membengkokkan atau mematahkan ranting. Aktivitas ini menciptakan celah bagi sinar matahari untuk masuk hingga ke lantai hutan, yang membantu spesies tanaman di tingkat bawah untuk tumbuh. Hutan yang sehat ini pun berperan besar dalam menyimpan cadangan karbon dan menghasilkan oksigen bagi kehidupan.

Orangutan Kalimantan dan Subspesiesnya yang Terancam

Orangutan Kalimantan terbagi menjadi tiga subspesies, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio. Ketiganya tersebar di wilayah berbeda, mulai dari Sungai Kapuas, Sarawak, Barito, hingga Sabah dan Kalimantan Timur.

Dengan panjang lengan dua kali lipat ukuran tubuhnya dan pinggul fleksibel yang mampu berputar hampir 180 derajat, satwa arboreal ini memiliki daerah jelajah yang luas. Namun, kebakaran yang terjadi setiap musim kemarau memecah belah wilayah jelajah tersebut menjadi kantong-kantong kecil yang terisolasi. Kondisi ini mempersulit perkawinan silang alami dan menurunkan kualitas genetik populasi orangutan di alam liar.

Kemampuan Alami yang Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Orangutan memiliki insting unik untuk mengobati diri sendiri dengan mengonsumsi daun atau kulit kayu yang memiliki khasiat antibakteri dan antiradang. Perilaku ini menunjukkan bahwa mereka sangat bergantung pada keanekaragaman hayati hutan untuk bertahan hidup. Ketika hutan terbakar, sumber makanan dan obat-obatan alami ini lenyap dalam semalam.

Melansir Orangutan Appeal UK, kemampuan adaptasi ini menjadikan orangutan sebagai indikator kesehatan hutan. Jika populasi mereka menurun drastis akibat karhutla, maka dapat dipastikan ekosistem hutan di sekitarnya sedang mengalami tekanan berat yang juga akan berdampak pada masyarakat sekitar hutan.

Sumber: rri.co.id

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks