Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima penghargaan Budaya Akademik Islami (Budai) Award 2026 dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang pada Senin. Penghargaan diberikan dalam kategori Tokoh Pemimpin Muda Inspiratif, sekaligus menempatkan Gus Yasin dalam deretan penerima sebelumnya seperti Buya Hamka, Jusuf Kalla, dan KH Maimoen Zubair.
SEMARANG — Taj Yasin Maimoen tidak memandang penghargaan Budai Award 2026 sebagai capaian pribadi. Putra mendiang ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu justru menyebutnya sebagai hasil kerja bersama banyak pihak, termasuk keluarga.
"Di belakang saya banyak orang yang mendampingi saya, salah satunya adalah istri saya," kata pria yang akrab disapa Gus Yasin di kampus Unissula, Semarang, Senin.
Penghargaan untuk Keteladanan, Bukan Popularitas
Rektor Unissula Prof Gunarto menegaskan bahwa Budai Award diberikan bukan sekadar apresiasi atas jabatan atau popularitas seseorang. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap keteladanan yang bisa menginspirasi generasi berikutnya.
"Karakter unggul tidak sekadar diajarkan di ruang-ruang kuliah dan laboratorium, tetapi dilahirkan melalui kehidupan nyata di kebangsaan dan masyarakat," ujar Gunarto.
Gus Yasin dinilai layak menerima penghargaan ini karena mampu menunjukkan keteladanan dalam Birrul Walidain (bakti kepada orang tua) dan Takrimul Aulad (memuliakan anak), sekaligus meneruskan perjuangan sang ayah.
Mata Rantai Keteladanan yang Harus Dilanjutkan
Bagi Gus Yasin, penghargaan ini menjadi pengingat untuk melanjutkan nilai-nilai yang telah ditanamkan para penerima Budai Award terdahulu. Ia menyebutnya sebagai bagian dari mata rantai keteladanan yang perlu diteruskan.
"Kami mengikuti jejak-jejak beliau, melanjutkan apa yang sudah dipondasikan oleh beliau-beliau untuk membangun Jawa Tengah, terkhusus di dalam bidang keagamaan," katanya.
Menurutnya, pembangunan bidang keagamaan tidak bisa dipisahkan dari pembangunan manusia. Pendidikan dan kemampuan intelektual perlu berjalan beriringan dengan pendidikan karakter dan nilai keagamaan.
Prinsip Rahmatan Lil Alamin dalam Kehidupan Bermasyarakat
Gus Yasin menilai prinsip Rahmatan lil alamin yang menjadi tema penganugerahan penting diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan keagamaan, kata dia, bukan untuk meninggalkan kelompok lain, melainkan menjadi landasan untuk mengayomi dan merangkul semua pihak.
Ia berharap penghargaan ini tidak berhenti sebagai bentuk apresiasi, tetapi menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki kekurangan sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.
Unissula Diharapkan Terlibat Lebih dalam Pembangunan Daerah
Di hadapan rektor dan sivitas akademika, Gus Yasin mengajak perguruan tinggi untuk semakin terlibat dalam pembangunan daerah. Pemerintah, menurutnya, tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan Jawa Tengah sendirian.
Penghargaan ini sekaligus menempatkan Gus Yasin dalam deretan penerima Budai Award sebelumnya, di antaranya Buya Hamka, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Muhammad Nuh, hingga KH Maimoen Zubair.