KOTA BOGOR — Puluhan anak santri dari Pesantren Al-Falak Pagentongan dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah peristiwa kebakaran melanda gudang penyimpanan kasur bekas di lingkungan pondok, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat. Pemerintah Kota Bogor memastikan anak-anak yang belum terdaftar BPJS Kesehatan tetap mendapatkan penanganan medis gratis yang dibiayai pemerintah daerah.
Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim saat menyambangi para korban yang sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) PMI Bogor pada Minggu bersama jajaran pimpinan perangkat daerah.
"Untuk korban kebakaran yang tidak ditanggung oleh BPJS akan ditanggung oleh Pemkot Bogor. Yang terpenting saat ini adalah memastikan seluruh anak mendapatkan penanganan dan pemulihan dengan baik," kata Wali Kota Dedie di Bogor, Minggu.
Sebaran Penanganan Medis di Rumah Sakit Kota Bogor
Berdasarkan data terkini, tercatat ada 56 anak yang menjadi korban dampak langsung dari amukan api. Mayoritas korban kini terpencar di berbagai rumah sakit dan pusat layanan kesehatan masyarakat guna mempercepat tindakan darurat.
Dari total 56 korban tersebut, sebanyak 31 santri dirawat di RS PMI Bogor. Sementara santri lainnya dirujuk ke beberapa fasilitas medis berbeda, di antaranya RS Hermina, RS UMMI, RSUD Kota Bogor, serta sejumlah puskesmas setempat.
Prioritas penanganan saat ini difokuskan pada pemulihan organ pernapasan para santri. Pasalnya, sebagian besar anak terlalu lama menghirup asap tebal saat kobaran api melahap gudang di area ponpes tersebut.
Pemicu Sesak Napas: Asap Tebal Busa Kasur Bekas
Gangguan pernapasan massal ini bermula ketika puluhan santri berinisiatif memadamkan api yang berkobar pada Sabtu (5/9) sore. Sayangnya, tumpukan material yang terbakar merupakan benda sintetis yang menghasilkan asap pekat beracun dalam volume besar.
"Total ada 56 anak yang terdampak kebakaran. Mereka pada saat terjadi kebakaran berusaha memadamkan api. Karena yang terbakar itu kasur busa dan berbahan spons, jadi memang sebagian besar mereka terkena sesak napas," ujarnya.
Dedie menegaskan tim dokter di seluruh rumah sakit rujukan terus berupaya menstabilkan saturasi oksigen dan saluran udara para pasien muda ini.
"Secara keseluruhan anak-anak ini sedang dicoba dipulihkan, terutama sesak napasnya, karena terlalu lama menghirup asap," kata Dedie.
Tiga Santri Alami Luka Bakar Saat Padamkan Api
Dampak kebakaran pesantren ini tidak hanya berupa trauma inhalasi atau sesak napas. Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bogor Teofilo Patrocinio Freitas mengonfirmasi adanya korban luka fisik.
Menurut laporan tim Damkarmat di lapangan, ada tiga santri yang mengalami luka bakar di bagian tangan akibat kontak langsung dengan material panas ketika berusaha menghalau perambatan api pada Sabtu sore kemarin.
Seluruh santri yang terluka kini berada dalam pengawasan medis penuh. Pemkot Bogor bersama tim medis rumah sakit berkomitmen terus memantau perkembangan kesehatan santri hingga dinyatakan pulih total dan diizinkan kembali ke asrama pesantren.