LINKARFAKTA.COM — Langkah penutupan Kawah Ijen di Jawa Timur diambil demi mengantisipasi ancaman keselamatan pengunjung di tengah meluasnya karhutla. Bencana musiman ini menghentikan sementara aktivitas wisata alam yang kerap menjadi tujuan pendakian favorit pelancong domestik maupun mancanegara.
Peristiwa serupa melanda sejumlah kawasan wisata alam lain di Indonesia selama musim kering. Jalur pendakian ditutup, agenda liburan tertunda, sementara aktivitas ekonomi di sekitar gerbang wisata terhenti seketika.
Dampak Karhutla terhadap Ekosistem Wisata
Dampak kebakaran hutan jauh melampaui rusaknya bentang alam atau fasilitas fisik di pos pendakian. Rantai ekonomi yang bertumpu pada kunjungan pelancong langsung lumpuh saat akses ditutup.
Pelaku UMKM, penyedia jasa pemandu lokal, hingga pengelola penginapan kehilangan sumber pendapatan harian. Pada titik ini, kesiapan menghadapi bencana menjadi penentu kelangsungan mata pencaharian warga sekitar kawasan konservasi.
Dosen Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, MBA, Ph.D, menilai peristiwa karhutla berulang harus dilihat dari sudut pandang ketahanan destinasi serta keselamatan wisatawan secara menyeluruh.
Destinasi yang abai terhadap aspek proteksi berisiko tinggi mencoreng reputasi pariwisata nasional di mata komunitas pelancong global.
Mengapa Destinasi Perlu Standar 5A+R?
Pengembangan pariwisata Indonesia selama ini bertumpu pada formula 4A, yakni atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan ansilaris. Formula tersebut dinilai belum memadai untuk menghadapi ancaman krisis iklim serta bencana lingkungan.
Deni mendorong integrasi unsur ketahanan dan keselamatan ke dalam konsep tata kelola tempat wisata agar pengelola lebih siap merespons bahaya mendadak.
"Indonesia selama ini sangat kuat dalam membangun destinasi berkonsep 4A. Tetapi perlu ditambahkan satu komponen yang sangat penting, safety dan resilience, sehingga konsep destinasi dapat dikembangkan menjadi 5A+R," ujar Deni kepada detikTravel, Jumat (4/9/2026).
Ketahanan atau resilience berarti destinasi memiliki mekanisme mitigasi terukur saat krisis terjadi, serta sanggup bangkit memulihkan layanan wisata dalam waktu singkat setelah situasi terkendali.
Langkah Mitigasi Mandiri bagi Wisatawan
Sebelum memilih jalur pendakian atau wisata pegunungan pada musim kemarau, pelancong perlu menjalankan sejumlah langkah preventif mandiri:
- Pantau kanal informasi resmi balai taman nasional atau dinas pariwisata setempat untuk memastikan status operasional terkini.
- Pelajari rute evakuasi darurat dan titik kumpul yang ditetapkan pengelola basecamp sebelum mulai mendaki.
- Gunakan perlengkapan pelindung pernapasan seperti masker respirator saat melintasi kawasan rawan debu kering atau abu sisa kebakaran.
- Hindari menyalakan api unggun, kompor portabel tanpa alas aman, atau membuang puntung rokok sembarangan di area vegetasi kering.
Arah pengembangan pariwisata ke depan dituntut mengutamakan aspek keselamatan daripada sekadar mempromosikan destinasi baru. Wisatawan yang cerdas dapat memprioritaskan destinasi yang telah menerapkan standar mitigasi bencana secara transparan.