Pencarian

Kawah Ijen Ditutup Imbas Karhutla, Pakar Dorong Konsep Wisata 5A+R

Sabtu, 05 September 2026 • 15:01:31 WIB
Kawah Ijen Ditutup Imbas Karhutla, Pakar Dorong Konsep Wisata 5A+R
Petugas memeriksa area terdampak kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan Kawah Ijen, Jawa Timur.

LINKARFAKTA.COM — Langkah penutupan Kawah Ijen di Jawa Timur diambil demi mengantisipasi ancaman keselamatan pengunjung di tengah meluasnya karhutla. Bencana musiman ini menghentikan sementara aktivitas wisata alam yang kerap menjadi tujuan pendakian favorit pelancong domestik maupun mancanegara.

Peristiwa serupa melanda sejumlah kawasan wisata alam lain di Indonesia selama musim kering. Jalur pendakian ditutup, agenda liburan tertunda, sementara aktivitas ekonomi di sekitar gerbang wisata terhenti seketika.

Dampak Karhutla terhadap Ekosistem Wisata

Dampak kebakaran hutan jauh melampaui rusaknya bentang alam atau fasilitas fisik di pos pendakian. Rantai ekonomi yang bertumpu pada kunjungan pelancong langsung lumpuh saat akses ditutup.

Pelaku UMKM, penyedia jasa pemandu lokal, hingga pengelola penginapan kehilangan sumber pendapatan harian. Pada titik ini, kesiapan menghadapi bencana menjadi penentu kelangsungan mata pencaharian warga sekitar kawasan konservasi.

Dosen Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, MBA, Ph.D, menilai peristiwa karhutla berulang harus dilihat dari sudut pandang ketahanan destinasi serta keselamatan wisatawan secara menyeluruh.

Destinasi yang abai terhadap aspek proteksi berisiko tinggi mencoreng reputasi pariwisata nasional di mata komunitas pelancong global.

Mengapa Destinasi Perlu Standar 5A+R?

Pengembangan pariwisata Indonesia selama ini bertumpu pada formula 4A, yakni atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan ansilaris. Formula tersebut dinilai belum memadai untuk menghadapi ancaman krisis iklim serta bencana lingkungan.

Deni mendorong integrasi unsur ketahanan dan keselamatan ke dalam konsep tata kelola tempat wisata agar pengelola lebih siap merespons bahaya mendadak.

"Indonesia selama ini sangat kuat dalam membangun destinasi berkonsep 4A. Tetapi perlu ditambahkan satu komponen yang sangat penting, safety dan resilience, sehingga konsep destinasi dapat dikembangkan menjadi 5A+R," ujar Deni kepada detikTravel, Jumat (4/9/2026).

Ketahanan atau resilience berarti destinasi memiliki mekanisme mitigasi terukur saat krisis terjadi, serta sanggup bangkit memulihkan layanan wisata dalam waktu singkat setelah situasi terkendali.

Langkah Mitigasi Mandiri bagi Wisatawan

Sebelum memilih jalur pendakian atau wisata pegunungan pada musim kemarau, pelancong perlu menjalankan sejumlah langkah preventif mandiri:

  • Pantau kanal informasi resmi balai taman nasional atau dinas pariwisata setempat untuk memastikan status operasional terkini.
  • Pelajari rute evakuasi darurat dan titik kumpul yang ditetapkan pengelola basecamp sebelum mulai mendaki.
  • Gunakan perlengkapan pelindung pernapasan seperti masker respirator saat melintasi kawasan rawan debu kering atau abu sisa kebakaran.
  • Hindari menyalakan api unggun, kompor portabel tanpa alas aman, atau membuang puntung rokok sembarangan di area vegetasi kering.

Arah pengembangan pariwisata ke depan dituntut mengutamakan aspek keselamatan daripada sekadar mempromosikan destinasi baru. Wisatawan yang cerdas dapat memprioritaskan destinasi yang telah menerapkan standar mitigasi bencana secara transparan.

Sumber: travel.detik.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks