Pencarian

Gubernur Sumsel Minta BNPB Perbanyak Operasi Hujan Buatan, Baru 54 Kali Terbang dan Hujan Tak Merata

Sabtu, 05 September 2026 • 03:14:01 WIB
Gubernur Sumsel Minta BNPB Perbanyak Operasi Hujan Buatan, Baru 54 Kali Terbang dan Hujan Tak Merata
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta BNPB menambah frekuensi operasi modifikasi cuaca pada September 2026 untuk mengatasi hujan yang belum merata.

PALEMBANG — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta BNPB memperbanyak penerbangan operasi modifikasi cuaca (OMC) sepanjang September 2026. Langkah ini ditempuh setelah 54 kali operasi hujan buatan yang dilakukan tim gabungan belum berhasil menurunkan hujan secara merata di seluruh wilayah provinsi.

"Untuk mengoptimalkan kerja tim OMC, kami meminta BNPB memperbanyak kegiatan operasi pada September 2026 ini," kata Herman Deru di Palembang, Jumat.

54 Kali Operasi, Hujan Baru Turun di Beberapa Titik

Herman Deru mengapresiasi kerja satuan tugas yang telah berupaya maksimal, namun ia mengakui hasilnya belum optimal. Dari puluhan kali penerbangan tersebut, hanya sejumlah titik yang berhasil diguyur hujan.

"Saya berterima kasih kepada semua satgas yang telah berbuat banyak. Ini bentuk usaha bersama, dari 54 kali tim OMC turun mengupayakan hujan buatan, baru beberapa titik saja hujan berhasil turun di Sumsel," ujarnya.

Empat Kabupaten Jadi Prioritas Satgas Darat

Selain mengandalkan teknologi hujan buatan, Herman Deru meminta Satgas Gabungan Penanggulangan Karhutla memperkuat upaya pencegahan dan pemadaman di daerah rawan. Sejumlah wilayah yang menjadi prioritas adalah Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Banyuasin.

"Sekarang ini curah hujan masih sangat rendah, untuk memaksimalkan penanggulangan karhutla perlu dilakukan OMC atau hujan buatan dan kegiatan operasi darat," kata dia.

Kenapa Pemadaman dari Udara Terkendala?

Musim kemarau 2026 yang dipicu fenomena El Nino menyebabkan kekeringan parah. Kondisi ini membuat satgas kesulitan mencari sumber air untuk mendukung pemadaman lewat helikopter water bombing.

Herman Deru menjelaskan, pengeboman air dari udara membutuhkan waktu penerbangan yang lama untuk mencapai lokasi pengisian air. Selain itu, operasi tersebut juga dibatasi prosedur standar (SOP) yang ketat.

"Pemadaman melalui pengeboman air dari helikopter membutuhkan waktu penerbangan yang lama untuk mendapatkan air, juga dibatasi SOP, oleh karena itu yang perlu diperkuat adalah upaya pemadaman melalui darat satgas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni dan unsur lainnya," pungkas Gubernur Herman Deru.

Sumber: m.antaranews.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks