Pencarian

Konsumsi BBM Diprediksi Tembus 88 Juta KL di 2026, Impor Masih Jadi Beban Ketahanan Energi

Kamis, 03 September 2026 • 11:27:01 WIB
Konsumsi BBM Diprediksi Tembus 88 Juta KL di 2026, Impor Masih Jadi Beban Ketahanan Energi
Direktur Perencanaan Strategis & Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Harsono Budi Santoso, menyampaikan proyeksi konsumsi BBM domestik dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).

LINKARFAKTA.COM — Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Perencanaan Strategis & Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Harsono Budi Santoso, dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9). Ia menyebut konsumsi BBM domestik sudah menyentuh 84 juta KL dalam empat hingga lima tahun terakhir sebelum akhirnya diprediksi kembali naik tahun ini.

"Ini merupakan angka yang juga cukup tinggi dan sebagian dari BBM yang kita konsumsi, kita ketahui bersama ini sangat tergantung dari BBM import, bahkan crude oil kita pun juga import," kata Harsono.

Ketergantungan Impor Bikin Ketahanan Energi Rentan

Harsono menilai kondisi ini menjadi persoalan serius bagi ketahanan energi nasional. Menurutnya, ketergantungan pada pasokan luar negeri berbanding lurus dengan risiko terhadap kedaulatan energi Indonesia di tengah gejolak harga minyak global.

"Ini yang tentunya dari sisi energy security, kemudian dari sisi sovereignty, ini tentunya sangat fragile untuk kita, untuk negara yang kita cintai ini," ujarnya.

Tekanan ini yang kemudian mendorong Pertamina mempercepat langkah diversifikasi energi yang bersumber dari dalam negeri. Perusahaan menilai transisi ke energi baru dan terbarukan (EBT) bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menekan defisit neraca impor migas.

Dari B50 Kini Berlanjur ke Bioetanol untuk Bensin

Upaya substitusi impor sejatinya sudah dimulai sejak 2008 lewat pengembangan biodiesel. Kala itu, campuran minyak sawit ke solar baru sebesar 2,5 persen atau B2,5 dan terus dieksekusi hingga kini mencapai B50. Perjalanan ini butuh waktu 16-17 tahun, dan Pertamina kini menggeser fokus ke segmen bensin atau gasoline.

Sejak 2023, perseroan mulai mencampurkan etanol 5 persen ke dalam BBM dengan meluncurkan produk Pertamax Green 95. Harsono menyebutkan produk ini saat ini sudah didistribusikan secara sukarela (voluntary) di lebih dari 180 SPBU.

"Memang saat itu dan sampai dengan hari ini sifatnya adalah voluntary dimana BBM untuk pertama green 95 sudah didistribusikan ke lebih dari 180 SPBU dengan 5 persen etanol di dalamnya," katanya.

Target Pabrik Etanol Baru dan Tantangan yang Menghadang

Kedepan, Pertamina tidak hanya berniat memperluas distribusi, tetapi juga menaikkan kadar campuran etanol serta menambah varian produk. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, perseroan menargetkan tambahan fasilitas produksi, salah satunya pabrik etanol di Banyuwangi berkapasitas 30 ribu KL yang ditargetkan beroperasi dalam dua tahun.

Harsono memproyeksikan bensin beretanol nantinya tidak hanya melekat pada produk RON 95, tetapi juga mulai diadopsi pada produk RON 92. "Dengan sebaran BBM yang tentunya nanti akan menggunakan etanol di dalamnya baik itu dengan komposisi yang lebih tinggi ataupun dengan sebaran yang lebih luas ataupun dengan varian produk," jelasnya.

Meski peta jalan sudah jelas, ia mengakui percepatan pengembangan bioetanol masih menggantung pada dukungan regulasi dan insentif dari pemerintah. Harga, infrastruktur, hingga ketersediaan bahan baku masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

"Ini tentunya akan membutuhkan support dan juga kerjasama dari kita semua tidak hanya dalam hal regulasi mandatori dari penyerapan etanol, akan tetapi juga nanti dari sisi pricing policy, kemudian dari sisi infrastruktur, kemudian juga tentunya dari feedstock yang saat ini masih sangat terbatas," pungkasnya.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks