JAKARTA — Pelemahan rupiah kian dalam pekan ini dengan tembusnya level psikologis baru di hadapan dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di posisi Rp17.763 per dolar AS pada perdagangan Rabu (2/9/2026), terperosok 19 poin dari perdagangan sebelumnya.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai faktor eksternal menjadi biang kerok utama. Menyeruaknya konflik antara militer AS dan Iran di kawasan Teluk membuat harga minyak mentah dunia melonjak, menekan mata uang negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
"Militer AS dan Iran saling serang menyebabkan konflik semakin meluas. Sehingga berimbas pada naiknya harga minyak mentah dunia," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Rabu (2/9/2026).
Spekulasi The Fed Kembali Panas
Tekanan eksternal tak berhenti di situ. Pasar kini berspekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan 15-16 September 2026. Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga bulan ini mencapai 65 persen, melonjak dari 40 persen pada pekan lalu.
Sentimen itu menguat setelah Gubernur The Fed Michael Barr mengingatkan perlunya sikap agresif. "Barr mengingatkan, jika inflasi tidak segera melambat, saatnya untuk menaikkan suku bunga," kata Ibrahim menirukan pernyataan pejabat bank sentral AS tersebut.
Retorika hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole ikut memanaskan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Inflasi Domestik Mulai Menanjak
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi umum pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan. Angka ini berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juni lalu, seiring melonjaknya harga komoditas pangan.
Secara tahunan, inflasi tercatat 3,19 persen, meningkat dari 2,88 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga pangan ini dinilai bakal menggerus daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling rentan terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Proyeksi Bank Indonesia untuk 2027
Di tengah tekanan nilai tukar, Gubernur Bank Indonesia yang baru dilantik, Destry Damayanti, telah memaparkan proyeksi ekonomi makro untuk tahun depan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2027 diperkirakan berada di kisaran 5,2 hingga 6 persen.
Adapun untuk nilai tukar rupiah, BI memproyeksikan berkisar di level Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS. Target ini selaras dengan upaya bank sentral menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Faktor penopang berasal dari surplus neraca perdagangan Juli yang melampaui ekspektasi, ditopang kinerja ekspor yang masih solid di tengah gejolak ekonomi global.