Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil Treasury, serta ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed.
**Jakarta (ANTARA)** - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu. Rupiah terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.763 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.744 per dolar AS.
Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pelemahan ini terjadi di tengah kuatnya indeks dolar AS. Kenaikan imbal hasil Treasury AS turut menekan nilai tukar rupiah.
“Rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Amru menambahkan, kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan tekanan inflasi global.
Sentimen Domestik Membebani
Dari sisi dalam negeri, sentimen negatif datang dari rilis PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus. Angkanya berada di level 49,8 atau kembali terkontraksi, menunjukkan aktivitas industri masih menghadapi tekanan.
Sementara itu, inflasi Agustus tercatat naik ke 3,19 persen secara tahunan, lebih tinggi dari 2,88 persen pada Juli. Meski begitu, angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI).