KUPANG — Pemerintah Kabupaten Kupang memastikan kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana bukan sekadar program seremonial. Revitalisasi Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) kini diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan mitra pembangunan, dengan target 17 sekolah sebagai percontohan awal.
Langkah ini dinilai krusial mengingat anak-anak merupakan kelompok paling rentan saat bencana melanda. Sekolah tidak hanya diposisikan sebagai tempat belajar, tetapi juga institusi yang mampu mengedukasi masyarakat sekitar tentang mitigasi risiko.
Anak-Anak Jadi Prioritas Utama dalam Kebijakan Mitigasi
Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Kupang, Guntur Subu Taopan, menegaskan bahwa keselamatan anak melalui program SPAB menjadi hal yang sangat krusial. Pemerintah daerah berkomitmen penuh mewujudkan sekolah yang tangguh terhadap bencana, dengan menempatkan anak sebagai prioritas utama, bukan sekadar tujuan akhir kebijakan.
"Keselamatan anak melalui program SPAB ini menjadi sangat krusial," kata Guntur dalam Lokakarya Penyusunan Rencana Kerja Sekber SPAB Program Generasi Berketahanan (GenRe) di Kupang, Kamis.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi strategis antara Save the Children dan CIS Timor. Kolaborasi tersebut dinilai membantu pemerintah daerah membangun sistem kesiapsiagaan yang terkoordinasi antarlembaga.
Regulasi Jadi Payung Hukum Revitalisasi Sekber SPAB
Revitalisasi Sekber SPAB di Kabupaten Kupang berjalan relatif lancar berkat dukungan regulasi yang kuat. Pemerintah daerah telah menerbitkan Peraturan Bupati Kupang Nomor 22 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan SPAB sebagai payung hukum krusial.
"Kolaborasi lintas sektor ini mempertemukan Pemerintah Kabupaten Kupang dengan mitra strategis pembangunan yang bergerak di isu pendidikan, perlindungan anak, kesetaraan gender, dan inklusivitas untuk merevitalisasi Sekber SPAB yang sudah ada," jelas Project Manager GenRe CIS Timor sekaligus Ketua Sekber SPAB Kabupaten Kupang, Ida Adu.
Target 17 Sekolah dan Rencana Replikasi ke Tingkat Nasional
Dari target 17 sekolah, beberapa di antaranya telah berhasil menerapkan program SPAB. Program Manager GenRe Save the Children, Yosep Tapun, mengatakan kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu terus dipertajam dan didiskusikan bersama lintas pemangku kepentingan.
Kesiapsiagaan ini dirancang agar sekolah mampu menjadi institusi yang mengedukasi masyarakat sekitar melalui pengetahuan dan keterampilan mitigasi. Model pengembangan yang berhasil di Kabupaten Kupang diharapkan dapat direplikasi secara meluas ke seluruh sekolah di daerah itu, bahkan hingga tingkat nasional.
Mengapa Sekolah Perlu Siap Hadapi Bencana?
Yosep mengingatkan pentingnya mitigasi bencana untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan. Menurutnya, sistem kesiapsiagaan sekolah harus berfungsi ganda, yakni melindungi warga sekolah sekaligus menjadi pusat edukasi kebencanaan bagi komunitas di sekitarnya.
"Kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah hal yang perlu dipertajam dan diskusikan bersama," ujarnya.
Dengan adanya payung hukum Perbup Nomor 22 Tahun 2024, koordinasi lintas sektor diharapkan semakin kuat. Ke depan, evaluasi berkala terhadap sekolah-sekolah percontohan akan menentukan perluasan program ke seluruh Kabupaten Kupang.