Pencarian

TikTok Rilis Komentar Suara dan Polling, Bukan Cuma Kolom Komentar Biasa

Kamis, 03 September 2026 • 20:12:32 WIB
TikTok Rilis Komentar Suara dan Polling, Bukan Cuma Kolom Komentar Biasa
TikTok meluncurkan fitur komentar suara dan polling untuk memperluas interaksi pengguna di kolom komentar.

LINKARFAKTA.COM — Raksasa media sosial asal China itu memperluas fungsi komentar yang sebelumnya hanya mendukung teks dan foto tunggal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya TikTok meningkatkan loyalitas pengguna di tengah ketatnya persaingan platform video pendek, khususnya melawan Reels milik Instagram dan YouTube Shorts.

Empat Fitur Baru di Kolom Komentar TikTok

Fitur pertama yang paling menarik perhatian adalah komentar suara. Pengguna dapat merekam pesan audio hingga satu menit langsung dari kolom komentar dengan menekan ikon mikrofon. Setelah diposting, pengguna lain cukup mengetuk untuk mendengarkan rekaman tersebut.

"Sound dan musik telah membentuk TikTok sejak awal, mengubah lagu menjadi tren dan klip audio menjadi lelucon," demikian pernyataan TikTok dalam blog resminya, Kamis (24/10). "Kini, kami membawa energi yang sama ke kolom komentar dengan Voice Comments."

Fitur kedua adalah polling yang dapat ditambahkan kreator di video mereka sendiri. Pemilik akun bisa menyematkan hingga lima pilihan jawaban dan menentukan durasi polling. Penggunaan umumnya mencakup voting ide video berikutnya, pemilihan outfit, hingga menentukan menu makanan.

Dua fitur lainnya berkutat pada format foto. Kreator kini dapat mengunggah hingga sembilan foto dalam satu komentar berupa carousel, naik dari batas sebelumnya yang hanya satu gambar. TikTok juga mendukung Live Photo, format foto bergerak singkat yang memperlihatkan preview momen sebelum gambar penuh ditampilkan.

Cara Menggunakan Komentar Suara

Khusus untuk komentar suara, prosesnya relatif sederhana dan tidak memerlukan keahlian teknis khusus:

  1. Buka video yang ingin dikomentari
  2. Ketuk ikon mikrofon yang tersedia di dalam kotak komentar
  3. Rekam pesan maksimal 60 detik
  4. Posting — pengguna lain dapat langsung mengetuk untuk mendengarnya

Ketersediaan Fitur dan Jadwal Rollout

Kebijakan rollout dibagi berdasarkan jenis fitur. Komentar Live Photo dan polling telah tersedia secara global mulai Kamis (24/10) untuk seluruh pengguna. Sementara itu, komentar suara dan carousel foto akan digulirkan bertahap selama sebulan ke depan.

Penting dicatat, fitur komentar suara hanya berlaku untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas. TikTok menyatakan konten audio ini tunduk pada Pedoman Komunitas yang sama seperti konten lain di platform. Perusahaan menggunakan kombinasi deteksi otomatis dan moderator manusia, termasuk teknologi transkripsi suara-ke-teks, untuk menyaring konten yang melanggar kebijakan.

Strategi Engagement atau Mimikri Aplikasi Pesan?

Kehadiran fitur-fitur ini menunjukkan adopsi pola interaksi yang lazim ditemukan di aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, atau Discord. Dengan menggabungkan suara, polling, dan foto, TikTok ingin menciptakan ekosistem percakapan di mana pengguna berlama-lama berinteraksi satu sama lain di bawah video.

Bagi kreator dan bisnis di Indonesia, pembaruan ini membuka peluang engagement yang lebih kaya. Polling bisa berfungsi sebagai riset pasar instan untuk produk atau konten berikutnya. Komentar suara, di sisi lain, memberikan dimensi personal yang tidak bisa ditiru media teks — mirip dengan fenomena obrolan suara yang digemari komunitas game dan musik di platform seperti Discord.

Meski demikian, fitur ini juga berpotensi menjadi celah baru untuk moderasi konten. Rekaman suara memerlukan sistem transkripsi yang akurat untuk mendeteksi ujaran kebencian dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang memiliki banyak dialek. TikTok belum merinci kapan dukungan transkripsi untuk bahasa lokal akan optimal.

Rencana rollout bertahap selama bulan depan menandakan TikTok masih menyempurnakan infrastruktur teknis sebelum fitur diakses seluruh pengguna global. Keputusan membatasi komentar suara hanya untuk pengguna dewasa juga sinyal jelas bahwa fitur ini dianggap berisiko tinggi, serupa dengan kebijakan yang diterapkan pada fitur live streaming di berbagai platform.

Sumber: techcrunch.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks