LINKARFAKTA.COM — Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dengan karakter yang baik. Namun, pertanyaannya, siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab membentuk karakter tersebut? Sekolah atau orang tua di rumah?
Visi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, tentang "Pendidikan Bermutu untuk Semua" menekankan penguatan pendidikan karakter. Visi ini merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yang mencakup nilai-nilai religius, nasionalis, kemandirian, gotong royong, dan integritas.
Mengapa Sekolah Saja Tidak Cukup?
Berbagai kasus yang melibatkan pelajar, seperti dugaan perundungan di SMPN 4 Randudongkal, Pemalang, hingga kekerasan seksual yang melibatkan 27 orang di Kabupaten Sampang, menjadi gambaran bahwa pembentukan karakter tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh sekolah.
Bukan berarti pendidikan karakter di sekolah gagal. Namun, beban moral tidak seharusnya dilimpahkan hanya kepada institusi pendidikan. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apa yang perlu diperkuat dan siapa yang harus membantu kerja sekolah dalam membentuk karakter peserta didik.
Orang Tua: Guru yang Tidak Lekang oleh Waktu
Thomas Lickona, yang dijuluki Bapak Pendidikan Karakter, menempatkan orang tua sebagai "guru" yang tidak lekang hanya karena pergantian kelas dan sekolah setiap tahun. Menurutnya, hubungan orang tua dan anak sarat makna emosional dan memiliki posisi strategis dalam mengajarkan moral, pandangan, dan makna kehidupan.
Penempatan ini bukan sekadar pemujaan, melainkan konsekuensi fatal bila tidak disadari sejak dini. Ketidakhadiran orang tua dalam kehidupan anak bukan hanya soal fisik, tetapi masalah sosok yang tidak hadir dalam setiap detik pertumbuhan anak.
Tantangan Kehadiran Orang Tua di Indonesia
Realitas di Indonesia menunjukkan banyak orang tua yang kesulitan hadir penuh untuk anaknya. UNICEF tahun 2021 melaporkan penyebab 20,9 persen anak di Indonesia tidak memiliki figur ayah, di antaranya akibat perceraian, kematian, atau pekerjaan ayah yang mengharuskan tinggal jauh dari keluarga.
Bagi anak, absennya orang tua berarti berkurangnya ruang untuk curhat, meluapkan emosi, atau sekadar bermain. Lebih dari itu, ini berarti kehilangan waktu penting dalam membentuk cara berpikir, latihan kontrol emosi, dan keluwesan perilaku.
Masa Emas yang Tidak Boleh Terlewat
Banyak yang mengabaikan fakta bahwa usia 0-5 tahun adalah masa keemasan tumbuh kembang anak. Pendidikan karakter semestinya diinisiasi orang tua sedini mungkin, sebelum anak memasuki masa pendidikan formal.
Memang, ada banyak faktor yang membuat orang tua harus melepas anaknya, entah karena kandasnya hubungan pernikahan atau bekerja seharian. Kondisi ini bukan pilihan mudah, dan solusinya tidak sesederhana memaksakan orang tua untuk hadir di setiap saat.
Kehidupan modern telah memisahkan anak dari orang tuanya karena kian terbatasnya pilihan yang tersedia. Sekolah pun kerap menjadi "bengkel moral" bagi anak, sementara orang tua memiliki alasan yang masuk akal untuk meninggalkan anak demi pekerjaan.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Meski tidak bisa hadir setiap waktu, orang tua tetap bisa menjadi "guru abadi" bagi anak. Kuncinya adalah memanfaatkan setiap momen kebersamaan dengan kualitas terbaik, bukan sekadar kuantitas waktu.
Pandangan Thomas Lickona tentang orang tua sebagai guru moral pertama tetap relevan. Namun, realitas yang mengharapkan orang tua hadir di setiap menit kehidupan anak tidak selalu sejalan dengan pandangan tersebut. Dilema ini membutuhkan kesadaran bersama bahwa pendidikan karakter adalah tanggung jawab kolaboratif antara rumah dan sekolah.
Yang terpenting, orang tua perlu menyadari bahwa kehadiran mereka—meski terbatas—adalah fondasi utama pembentukan karakter anak. Setiap percakapan, pelukan, dan momen bermain adalah investasi berharga yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun.