JOMBANG — Sebanyak 26 siswa di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, terindikasi Tuberkulosis (TB) setelah menjalani pemeriksaan rontgen dada dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau langsung pelaksanaan skrining di SMA A. Wahid Hasyim, Kamis (20/08/2026).
Penemuan kasus ini menjadi bagian dari strategi pemerintah mempercepat deteksi TB di lingkungan pendidikan berasrama. Pendekatan jemput bola dipilih karena intensitas interaksi antarpenghuni di pesantren dinilai tinggi, sehingga risiko penularan lebih besar.
Angka Kematian TB Lebih Tinggi dari Covid-19
Budi menegaskan percepatan skrining menjadi kunci menekan angka kematian akibat TB. Menurutnya, ketersediaan obat tidak cukup jika penderita terlambat ditemukan.
“Ini penyakit yang kematiannya 120-140 ribu setahun. Lebih banyak dari Covid, dan kalau kita ngomong setiap lima menit dua orang meninggal,” ujar Budi di lokasi.
Ia menjelaskan, proses pemeriksaan TB selama ini kerap terkendala tahapan yang panjang. Kondisi itu membuat penemuan penderita berlangsung lama sehingga pengobatan tidak segera dimulai.
“Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang skriningnya, ketahuannya sering sangat-sangat lama,” katanya.
Kemenkes Siapkan Ribuan X-Ray Mobile untuk Skrining Massal
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Kementerian Kesehatan berencana memperluas penggunaan perangkat rontgen bergerak. Ribuan unit X-ray mobile akan disebar ke sekolah, pesantren, hingga lembaga pemasyarakatan.
“Sekarang dengan teknologi baru, X-ray itu bisa dibawa ke mana-mana. Kemenkes akan membeli X-ray yang banyak, ribuan, agar bisa melakukan skrining atau X-ray rontgen ke sekolah-sekolah, ke pesantren-pesantren, ke lapas-lapas,” jelasnya.
Pasien TB Tak Perlu Dijauhi, Obat Gratis Tersedia
Budi meminta masyarakat tidak memberikan stigma kepada pasien TB. Pengobatan yang rutin dijalani dapat menghentikan penularan dalam waktu relatif singkat.
“Tadi sudah dicek, sudah ketemu 26. Kalau ketemu tidak apa-apa. Justru dengan ketemu bisa diobatin. Dan kalau sudah diobatin sebulan, berhenti penularannya,” katanya.
Istri Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Hj. Lelly Lailiyah, meminta para santri tidak mengisolasi teman yang terindikasi TB. Mereka akan mendapatkan pengobatan gratis selama satu hingga tiga bulan.
“Untuk semua santri-santri Tebuireng tidak perlu takut tertular. Teman-teman kalian yang terindikasi akan diberikan obat langsung selama kurang lebih satu bulan sampai tiga bulan. Gratis,” jelas Lelly.
Target Skrining di 42 Ribu Pesantren
Kementerian Kesehatan menargetkan perluasan skrining TB ke sekitar 42 ribu pondok pesantren di Indonesia. Pemeriksaan berbasis komunitas ini diharapkan menemukan lebih banyak kasus sejak dini.
Budi mengapresiasi pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang menjadi pionir pelaksanaan program tersebut.
“Terima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah mau memulai. Mudah-mudahan nanti bisa ke 42 ribu pesantren lainnya,” tandasnya.
Perluasan skrining menempatkan pesantren sebagai lingkungan strategis dalam penemuan kasus aktif. Kolaborasi antara pengelola pesantren, tenaga kesehatan, dan keluarga menjadi kunci keberhasilan pengendalian penularan TB di Indonesia.