RIAU — Para pekebun kelapa sawit di Riau kembali dihadapkan pada fluktuasi harga yang merugikan. Setelah harga CPO dan inti sawit (kernel) ambruk di pasar internasional, harga TBS yang mereka jual pun ikut terpangkas dalam beberapa hari terakhir.
Padahal, sawit merupakan komoditas utama yang menghidupi jutaan keluarga di provinsi berjuluk Bumi Lancang Kuning ini. Setiap pergerakan harga di bursa Rotterdam atau Malaysia, dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat kebun.
Berapa Penurunan Harga TBS di Tingkat Petani?
Penurunan harga TBS ini terjadi hampir merata di seluruh kabupaten/kota penghasil sawit di Riau. Namun, besaran koreksinya bervariasi, tergantung pada usia tanaman dan kualitas buah yang dijual ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Untuk TBS dengan umur tanaman 10 hingga 20 tahun yang biasanya menjadi patokan harga tertinggi, penurunannya cukup signifikan. Para tengkulak dan koperasi unit desa (KUD) pun mulai menyesuaikan harga beli mereka mengikuti acuan yang ditetapkan pemerintah.
Penyebab Utama: Harga CPO dan Kernel Anjlok di Pasar Global
Koreksi harga TBS ini merupakan imbas langsung dari melemahnya harga CPO dan kernel di pasar ekspor. Permintaan global yang melambat, terutama dari negara-negara importir utama, menjadi faktor dominan yang menekan harga.
Selain itu, meningkatnya pasokan minyak nabati lain, seperti minyak kedelai dan bunga matahari, turut memberi tekanan kompetitif pada harga CPO. Kondisi ini membuat pabrik-pabrik di Riau mengurangi harga beli TBS untuk menjaga margin operasional mereka.
Dampak ke Ekonomi Pekebun dan Daerah
Fluktuasi harga ini bukan sekadar soal angka di papan pengumuman koperasi. Bagi pekebun swadaya yang menggantungkan hidup dari sawit, penurunan harga TBS berarti berkurangnya pemasukan harian untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak.
Di tingkat daerah, anjloknya harga TBS juga berpotensi menurunkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor perkebunan. Aktivitas ekonomi di daerah-daerah sentra sawit seperti Kampar, Pelalawan, dan Rokan Hulu ikut melambat karena daya beli petani melemah.
Apa Langkah Selanjutnya bagi Petani?
Di tengah ketidakpastian harga, para pekebun diimbau untuk tidak terburu-buru memanen buah yang belum matang sempurna. Memanen TBS dengan tingkat kematangan yang tepat justru bisa menjaga rendemen minyak dan mempertahankan kualitas di mata pabrik.
Sementara itu, pemerintah daerah dan dinas terkait diharapkan dapat memantau langsung kondisi di lapangan serta memastikan mekanisme penetapan harga berjalan transparan. Jika penurunan berlanjut, intervensi kebijakan diperlukan untuk melindungi petani dari kerugian yang lebih dalam.