JAWA TIMUR — Perjalanan kreatif Wilsen Willim dalam merancang koleksi couture perdananya, Algorithm: Universal Language, bukan dimulai dari sketsa di atas kertas. Semuanya berawal dari kunjungannya ke rumah-rumah perajin di empat wilayah Indonesia: songket Jembrana di Bali, tenun sutera Garut di Bandung Selatan, tenun Dayak Iban di Kapuas Hulu-Putussibau, Kalimantan Barat, dan songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat.
Di sana, Wilsen tidak sekadar memilih kain jadi. Ia duduk bersama perajin, mengamati proses menenun benang demi benang, merasakan tekstur material, dan memahami konstruksi setiap helai kain. Pengalaman ini yang kemudian membentuk identitasnya sebagai desainer.
"Dengan wastra Indonesia, aku merasa menjadi lebih utuh. Aku adalah desainer Indonesia yang mengangkat kultur Indonesia yang sungguh luar biasa kaya," ujar Wilsen dalam keterangan film dokumenter tersebut.
Dampak Nyata bagi Perajin Lokal
Kolaborasi ini membawa efek berkelanjutan bagi mitra Wilsen di daerah. Eva Muzdalifah dari Eva Oemah Batik mengaku motif asli Ciwaringin yang digunakan Wilsen memicu pesanan ulang dari konsumen lain.
"Motif asli Ciwaringin yang beberapa kali Wilsen ambil itu ada yang minta repeat order gitu," kata Eva.
Aktivitas produksi yang terus berjalan membuat para perajin tetap memiliki pekerjaan. Bahkan, kolaborasi tersebut mendorong rencana pembangunan gudang batik baru. Di sisi lain, penggunaan benang daur ulang untuk songket Minang membuka ruang eksperimen teknik baru bagi perajin, memadukan material modern dengan motif tradisional.
Tantangan Mengolah Tenun Tipis dan Motif Kaku
Mengolah wastra menjadi busana couture punya tantangan tersendiri. Tenun sutera Garut, misalnya, memiliki tekstur tipis yang menyulitkan proses penjahitan.
"Jadi harus dilapis kain dulu (karena tipis)," jelas Wilsen.
Selain karakter material, desainer juga harus cermat memanfaatkan motif yang sudah terbentuk pada kain agar selaras dengan desain busana. Sementara itu, benang daur ulang pada songket Minang cenderung mudah putus dan berbulu saat ditenun, sehingga perajin perlu memadukannya dengan jenis benang lain demi menghasilkan tekstur yang diinginkan.
Harapan Keberlanjutan Ekonomi Kain Tradisional
Bagi Wilsen, kolaborasi ini bukan proyek sesaat. Ia berharap keterlibatannya mampu membawa dampak ekonomi jangka panjang bagi para mitranya.
"Mungkin kita lihat 10 tahun lagi apa yang akan terjadi, semoga semua mitra aku juga ikut maju. Karena ternyata satisfaction membawa impact tuh membuat hatiku hangat," tutur Wilsen.
Target berikutnya adalah memperluas pasar wastra Indonesia agar menenun menjadi profesi yang berkelanjutan. Dengan semakin banyak konsumen yang mengenal dan menggunakan batik serta tenun, permintaan terhadap karya perajin diharapkan terus tumbuh.
Dokumenter berdurasi 56 menit 57 detik ini akan diputar secara terbatas di ASTHA DISTRIC 8 pada 24 Agustus 2026. Bagi Anda yang ingin memahami perjalanan wastra dari tangan perajin hingga panggung mode, penayangan ini menjadi kesempatan untuk melihat proses kreatif yang jarang terungkap.