JAWA TIMUR — Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada Badan Penghubung Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penyerahan dilakukan atas nama Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, di kantor perwakilan NTT di Jakarta.
Langkah ini diambil menyusul rusaknya sejumlah infrastruktur telekomunikasi darat akibat gempa. Padahal, akses internet menjadi kebutuhan krusial untuk mengoordinasikan evakuasi, distribusi logistik, hingga pelaporan data korban dari lokasi terdampak.
Jaringan Satelit untuk Titik yang Terputus
Teknologi Starlink yang dikirimkan menggunakan konstelasi satelit low earth orbit (LEO), sehingga tidak bergantung pada menara pemancar seluler yang kemungkinan besar rusak atau mati listrik. Perangkat ini bersifat plug-and-play dan dapat dioperasikan di lokasi terpencil dengan membuka pandangan ke langit.
“Kami juga menyerahkan 20 perangkat komunikasi Starlink. Mudah-mudahan ini juga bisa menjadi manfaat agar konektivitas lancar dan juga keluarga besar kita di NTT ini bisa terus menjalin komunikasi dengan yang terkasih, kemudian kerabat, dan juga untuk mempermudah penanganan bencana di lapangan,” kata Fifi dalam keterangan persnya.
Fifi menambahkan, keberadaan jaringan internet yang stabil akan membantu tim gabungan di lapangan untuk bertukar data secara real-time. Hal ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan mengandalkan komunikasi dua arah yang terbatas.
Peran Konektivitas dalam Penanganan Darurat
Dalam situasi bencana, keterputusan komunikasi kerap menjadi hambatan terbesar bagi petugas. Tim medis dan SAR kesulitan melaporkan kebutuhan mendesak, sementara warga kehilangan akses informasi resmi mengenai titik pengungsian atau bantuan.
Dukungan konektivitas ini menjadi penting dalam kondisi bencana. Selain membantu masyarakat berkomunikasi dengan keluarga, akses internet juga dapat menunjang koordinasi serta proses penanganan bencana di lapangan.
Badan Penghubung Provinsi NTT akan mendistribusikan perangkat tersebut ke lokasi pengungsian dan posko-posko darurat yang dinilai paling membutuhkan. Prioritas diberikan pada kecamatan yang hingga kini masih gelap total dari sinyal telekomunikasi.
Upaya Pemulihan Jangka Pendek dan Panjang
Pengiriman perangkat satelit ini merupakan bagian dari respons cepat pemerintah pusat. Meski demikian, upaya pemulihan permanen tetap membutuhkan perbaikan infrastruktur fisik yang rusak akibat guncangan.
Langkah Komdigi ini sekaligus menjadi uji lapangan bagi penggunaan teknologi satelit dalam skenario kebencanaan di Indonesia. Sebelumnya, teknologi serupa juga pernah digunakan untuk mendukung konektivitas di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta saat penanganan bencana di beberapa wilayah lain.
Warga yang terdampak diharapkan dapat segera memanfaatkan fasilitas ini untuk menghubungi kerabat di luar NTT. Bagi tim penanggap bencana, koneksi internet yang stabil berarti data korban dan kebutuhan logistik dapat disampaikan lebih cepat ke pusat komando.