LINKARFAKTA.COM — Pembangunan 14 proyek PLTS tersebut tersebar di berbagai titik dengan skala yang beragam, mulai dari proyek raksasa hingga pembangkit untuk daerah terpencil. Proyek PLTS Gilimanuk menjadi yang terbesar dengan kapasitas 300 MWp, disusul PLTS Terapung Gajah Mungkur sebesar 134 MWp. Di sisi lain, pemerintah juga membangun PLTS skala kecil seperti PLTS Desa Sembur (0,92 MWp) dan PLTS Pulau Rengit (0,078 MWp) yang menyasar pemerataan akses listrik.
Target 100 GWp: Strategi Kemandirian Energi dan Industri dalam Negeri
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan program ini bukan sekadar penambahan kapasitas listrik. Menurutnya, proyek ini dirancang untuk memanfaatkan rantai pasok industri dalam negeri yang sudah terbangun.
"Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kita betul-betul akan berdiri di atas kaki kita sendiri," ungkap Bahlil dalam rilis resmi.
Pernyataan tersebut merespons target Presiden Prabowo yang meminta seluruh jajaran kementerian dan BUMN memperkuat kolaborasi. Kepala Negara menekankan komitmennya dengan nada tegas: "Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun."
Dampak Ekonomi: Hemat APBN Rp73 Triliun hingga Ciptakan 5,52 Juta Lapangan Kerja
Dari sisi fiskal, program ini diyakini mampu meringankan beban keuangan negara secara signifikan. Pemerintah memproyeksikan penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih dari Rp73 triliun per tahun, didorong oleh biaya pokok pembangkitan listrik tenaga surya yang lebih rendah dibandingkan pembangkit diesel maupun gas.
Selain penghematan biaya, proyek ini juga membuka peluang lapangan kerja yang luas. Kementerian ESDM menghitung akumulasi penyerapan tenaga kerja mencapai 5,52 juta orang, dengan rincian 3,5 juta orang di industri panel surya dan BESS, serta 2 juta orang di sektor konstruksi.
Dampak lingkungan turut menjadi perhatian. Program ini diproyeksikan mengurangi emisi karbon hingga 140,16 juta ton CO2 per tahun, dengan nilai ekonomi karbon mencapai Rp6,31 triliun. Penghematan konsumsi diesel juga dipatok di angka 6 juta kilo liter per tahun secara nasional, termasuk 500 ribu kilo liter khusus untuk wilayah Bali.
Manfaat Langsung untuk Masyarakat: dari Cold Storage Nelayan hingga Listrik 24 Jam
Proyek PLTS skala kecil yang digarap pemerintah memberikan dampak langsung yang terukur bagi masyarakat. PLTS Desa Sembur, misalnya, dirancang untuk menopang aktivitas ekonomi nelayan dengan menyediakan listrik bagi fasilitas cold storage berkapasitas 5 ton dan mesin pembuat es berkapasitas 4 ton.
Sementara itu, keberadaan PLTS Pulau Rengit terbukti mengubah kualitas hidup warga. Waktu nyala listrik yang sebelumnya hanya sekitar 12 jam per hari, kini meningkat menjadi 24 jam penuh. Perbaikan layanan ini juga diiringi penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) sebesar Rp4.400 per kWh atau 26 persen lebih rendah dari sebelumnya.
Dengan cakupan proyek dari skala raksasa hingga wilayah kepulauan, program PLTS 100 GWp diarahkan menjadi tulang punggung transformasi energi nasional. Pemerintah ingin memastikan transisi ini tidak hanya menambah megawatt, tetapi juga memperkuat industri, memperluas akses energi, dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.