El Nino Kuat Landa Sulawesi Selatan, 7 Hari ke Depan Cuaca Cerah dan Suhu Capai 34 Derajat
MAKASSAR — Sebagian besar kabupaten/kota di Sulawesi Selatan diprakirakan masih akan diselimuti cuaca cerah hingga tujuh hari ke depan, tepatnya pada periode 25–31 Agustus 2026. Kondisi atmosfer yang kering ini dipicu oleh menguatnya fenomena El Nino yang kini telah mencapai level sangat kuat, sehingga masyarakat diimbau untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem dari biasanya.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru BMKG, indeks suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada Dasarian II Agustus tercatat mencapai +2,99. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan bulan Juli yang berada di angka +2,20, menandakan intensitas El Nino yang semakin menguat dan berdampak pada berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia.
Suhu Maksimum Capai 34 Derajat di Wilayah Daratan
Dampak dari kondisi ini mulai terasa di sejumlah wilayah. Kota Makassar diprakirakan cerah pada 25–30 Agustus dengan suhu berkisar 22–31 derajat Celsius, sebelum berubah menjadi berawan pada 31 Agustus. Sementara itu, wilayah pesisir seperti Parepare dan Pangkep cenderung cerah dengan suhu maksimum sekitar 30–33 derajat Celsius.
Potensi suhu tertinggi justru terjadi di wilayah daratan. Sidrap, Pinrang, dan Soppeng berpotensi mencapai 33–34 derajat Celsius pada beberapa hari ke depan. Jeneponto dan Takalar juga diprakirakan menyentuh angka 32–33 derajat Celsius. Kondisi ini diperparah dengan kemunculan kabut atau udara kabur di sejumlah daerah seperti Bantaeng, Gowa, Luwu, Luwu Utara, dan Toraja Utara.
Wilayah Pegunungan Tetap Dingin, Waspada Kabut
Berbeda dengan wilayah pesisir dan daratan rendah, kawasan pegunungan justru mengalami suhu yang jauh lebih rendah. Enrekang diprakirakan berada pada kisaran 17–27 derajat Celsius, sedangkan Tana Toraja dan Toraja Utara dapat mengalami suhu minimum sekitar 13–17 derajat Celsius. Beberapa wilayah dataran tinggi juga berpotensi mengalami kabut atau udara kabur yang dapat mengganggu jarak pandang.
Puncak Kemarau Berpotensi Lebih Kering dan Panjang
BMKG sebelumnya telah memperkirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Juli–September. Namun dengan adanya penguatan El Nino, kondisi kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Pengaruh El Nino terhadap Indonesia perlu diwaspadai hingga sekitar pertengahan Oktober.
Meski didominasi cuaca cerah, bukan berarti seluruh Sulsel terbebas dari potensi hujan. Faktor lokal seperti topografi, pemanasan permukaan, dan dinamika angin tetap dapat memicu pertumbuhan awan dan hujan lokal di sejumlah wilayah. Masyarakat tetap diminta memantau pembaruan prakiraan cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah secara dinamis.
Imbauan Kewaspadaan Kekeringan dan Kebakaran Lahan
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, kebakaran lahan, serta kondisi udara yang lebih kering dan berdebu. Berikut ringkasan prakiraan cuaca Sulsel 25–31 Agustus 2026:
- 25 Agustus: mayoritas wilayah cerah.
- 26 Agustus: cerah mendominasi, suhu maksimum sejumlah daerah mencapai 32–33 derajat Celsius.
- 27 Agustus: cerah hingga cerah berawan; suhu sejumlah wilayah daratan mencapai 33 derajat Celsius.
- 28 Agustus: sebagian besar masih cerah, dengan potensi suhu tinggi di wilayah selatan dan timur Sulsel.
- 29 Agustus: cerah hingga cerah berawan; suhu maksimum dapat mencapai 34 derajat Celsius di beberapa wilayah.
- 30 Agustus: cerah masih mendominasi, sementara sejumlah wilayah mulai berawan.
- 31 Agustus: pola cuaca mulai lebih bervariasi, dengan beberapa daerah diprakirakan berawan atau cerah berawan.
Dengan kondisi El Nino yang masih sangat kuat, Sulsel perlu bersiap menghadapi periode kemarau yang kering, terutama terkait ketersediaan air dan potensi kebakaran lahan. BMKG memprediksi kondisi kering masih menjadi karakter utama cuaca di banyak wilayah Indonesia dalam periode ini.