Omah Alas Semarang Ajak Generasi Muda Berlatih Jemparingan, Menata Hati dan Mengolah Rasa di Tengah Alam
SEMARANG — Suara desing anak panah yang melesat dari busur bambu mewarnai suasana asri Omah Alas, Desa Wisata Kandri, Gunungpati, pada Selasa (25/8/2026). Sekitar 40 pemanah tradisional mengikuti Jempol Gladen Alit, sebuah ajang latihan bersama sekaligus silaturahmi dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bukan Soal Jarak, Melainkan Konsentrasi dan Ketepatan
Berbeda dengan gladhen ageng tingkat nasional yang menggunakan jarak minimal 30 hingga 70 meter, latihan di Omah Alas ini hanya menempuh jarak 25 meter. Namun, tantangan utama jemparingan justru terletak pada kemampuan menjaga ketenangan dan konsentrasi sebelum melepaskan anak panah.
Pengelola Omah Alas, Wahid, menjelaskan bahwa jemparingan bukan sekadar olahraga memanah. Tradisi ini memiliki aturan dan filosofi yang mengajarkan pengendalian diri, di mana pemanah dituntut untuk menata hati dan mengolah rasa sebelum membidik sasaran.
Filosofi di Balik Busana Adat dan Posisi Duduk
Keunikan jemparingan terlihat dari busana adat yang dikenakan serta posisi memanah sambil duduk. Pemanah laki-laki mengambil posisi bersila, sementara perempuan duduk bersimpuh dengan tubuh menyamping menghadap sasaran.
Dalam setiap rambahan, pemanah menggunakan empat anak panah. Hal ini dilakukan untuk mengenali sekaligus menyesuaikan diri dengan karakter masing-masing anak panah, sebuah proses yang menuntut kesabaran dan kepekaan rasa.
Keselamatan dan Apresiasi Sederhana ala Jemparingan
Karena anak panah memiliki ujung yang tajam, keselamatan menjadi prioritas utama. Setiap peserta wajib mematuhi tata krama, termasuk menutup mata anak panah saat membawanya dan menjaga jarak aman selama berada di area latihan.
Berbeda dengan kompetisi olahraga modern, apresiasi dalam jemparingan justru bernilai sederhana. Para pemanah yang berhasil mengenai sasaran mendapatkan tanda tresno atau wugon berupa kopi saset, teh, hingga mi instan dengan nilai sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000.
"Kesederhanaan ini justru menjadi bagian dari semangat kebersamaan dan keakraban di antara para peserta," ujar Wahid.
Omah Alas: Ruang Belajar Budaya dan Alam
Sejak berdiri pada 2010, Omah Alas berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang memadukan kekayaan budaya dengan kehidupan pedesaan. Paket wisata budaya jemparingan yang hadir sejak tahun lalu menarik minat pelajar dari berbagai daerah, mulai Semarang hingga Tangerang, bahkan wisatawan mancanegara.
Selain jemparingan, pengunjung dapat mencoba beragam permainan dan kesenian tradisional seperti egrang, engklek, rangku alu, melukis topeng, nothok lesung, hingga seni tari. Kreativitas berbasis lingkungan juga ditonjolkan melalui pemanfaatan limbah organik yang diolah menjadi patung karakter Gandri Etnik.
Angin Segar bagi Pelestarian Budaya Jawa
Kehadiran mahasiswa dan pemuda di arena jemparingan menjadi harapan baru bagi pelestarian budaya Jawa. Wahid menegaskan, di tengah maraknya gawai dan game daring, latihan panahan tradisional di alam terbuka diharapkan mampu menjadi benteng karakter dan identitas budaya bangsa.
Salah satu peserta muda, Putri Sandiya Bassalamah (20), mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES) asal Cirebon, mengaku pengalaman pertamanya menjajal jemparingan memberikan tantangan tersendiri. Ia harus menjaga konsentrasi sekaligus mengeluarkan tenaga ekstra saat menarik tali busur.
Wahid berharap Omah Alas dapat terus menjadi wadah belajar sekaligus ruang pelestarian budaya Nusantara. Dengan begitu, generasi penerus tidak hanya menikmati permainan modern, tetapi juga tumbuh dengan rasa bangga dan ikut aktif nguri-uri atau melestarikan tradisi leluhur.