Pencarian

Blue Tourism 2045, Strategi Jaga Laut Indonesia Tetap Jadi Destinasi Wisata

Minggu, 27 September 2026 • 10:43:01 WIB
Blue Tourism 2045, Strategi Jaga Laut Indonesia Tetap Jadi Destinasi Wisata
Pemandangan kawasan wisata bahari Indonesia yang menjadi fokus gagasan Blue Tourism 2045.

LINKARFAKTA.COM — Gagasan Blue Tourism 2045 menempatkan laut sebagai subjek utama pariwisata bahari Indonesia, bukan sekadar objek promosi. Pendekatan ini menekankan wisata berbasis alam, konservasi, dan ilmu pengetahuan yang bertumpu pada daya dukung ekologis. Wacana ini mengemuka bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia 2026 yang mengangkat tema digital dan kecerdasan buatan.

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan garis pantai sekitar 108.000 kilometer. Posisinya sebagai pusat Coral Triangle menjadikan keanekaragaman hayati laut Tanah Air sulit ditandingi. Namun, modal alam sebesar itu juga menyimpan persoalan yang makin mendesak.

Gagasan Blue Tourism 2045 yang digagas pakar pariwisata bahari sekaligus dosen Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, Ahmad Bahar, berangkat dari satu pertanyaan mendasar. Bagaimana mengubah cara mengelola laut agar lebih bernilai bagi masyarakat, bangsa, dan negara, bukan sekadar dijual sebagai objek wisata.

Dari Wisata Massal ke Wisata Berbasis Konservasi

Blue Tourism 2045 mendorong pergeseran paradigma dari wisata massal menuju nature tourism, ecotourism, conservation tourism, dan scientific tourism. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan selera wisatawan.

Tekanan terhadap destinasi sudah nyata. Overtourism, degradasi ekosistem, sampah laut, konflik pemanfaatan ruang, dan penurunan kualitas lingkungan membuat paradigma "semakin banyak wisatawan semakin baik" tidak lagi memadai.

Contoh paling aktual terlihat di Taman Nasional Komodo. Pemerintah memberlakukan pembatasan kunjungan maksimal 1.000 orang per hari di sejumlah destinasi utama, termasuk Pulau Padar, Rinca, Komodo, dan lokasi penyelaman. Kebijakan itu diambil dengan pertimbangan daya dukung dan keberlanjutan ekosistem.

Sampah hingga Kerusakan Terumbu Karang

Di Pulau Derawan, destinasi penyelaman yang menjadi ikon wisata bahari, tekanan sampah telah menjadi persoalan serius. Sampah berasal dari aktivitas masyarakat dan pariwisata setempat, sekaligus terbawa arus laut dari wilayah lain.

Penelitian terbaru di Sabang menunjukkan pengelolaan sampah plastik di pulau-pulau kecil membutuhkan pendekatan berbasis masyarakat dan multipihak. Ancaman terhadap terumbu karang pun tidak selalu terlihat kasat mata.

Penelitian terhadap ratusan penyelam di Indonesia dan Filipina menemukan kontak penyelam dengan terumbu rata-rata sekitar sekali setiap empat menit. Lebih dari 40 persen kontak yang diamati menimbulkan kerusakan yang terlihat.

Perubahan iklim memperbesar tekanan tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan terumbu karang Indonesia memiliki tingkat ketahanan tertentu terhadap peningkatan suhu laut, tetapi ketahanan itu memiliki batas.

Oseanografi sebagai Fondasi Perencanaan

Ilmu oseanografi ditempatkan di jantung perencanaan pariwisata bahari. Gelombang, arus, pasang surut, suhu, kedalaman, kecerahan, kualitas air, hingga dinamika biota bukan sekadar data akademik.

Semua faktor itu menentukan kesesuaian lokasi, keselamatan wisatawan, kenyamanan, kapasitas kunjungan, bahkan jenis aktivitas wisata yang dapat dikembangkan. Objek wisata bahari terbentuk oleh dinamika laut, sekaligus ditentukan olehnya.

AI untuk Mengendalikan Kunjungan, Bukan Mempercepat Overtourism

Hari Pariwisata Dunia 2026 mengangkat tema "Digital Agenda and Artificial Intelligence to Redesign Tourism". Tema ini relevan bagi Indonesia, terutama untuk membangun smart marine tourism.

Kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan memprediksi gelombang dan cuaca, memantau kualitas perairan, memetakan biodiversitas, menghitung kepadatan wisatawan, serta mendeteksi tekanan terhadap ekosistem. Gagasan digital twin destination juga dapat dikembangkan untuk membuat model virtual destinasi.

Model itu menggabungkan data oseanografi, lingkungan, wisatawan, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi. AI tidak boleh hanya menjadi mesin promosi yang mengarahkan jutaan wisatawan ke tempat yang sama. Algoritma justru harus digunakan untuk mendistribusikan kunjungan dan memberi peringatan ketika daya dukung ekologis terlampaui.

Bagi wisatawan yang merencanakan liburan bahari, arah kebijakan ini berdampak langsung. Kunjungan ke kawasan konservasi seperti Taman Nasional Komodo kini dibatasi kuotanya, sehingga pemesanan lebih awal menjadi keharusan. Informasi terkini soal kuota, jadwal, dan tarif dapat dikonfirmasi melalui pengelola kawasan atau dinas pariwisata setempat.

Masa depan pariwisata bahari Indonesia bergantung pada seberapa baik laut dijaga. Jika laut rusak, destinasi kehilangan daya tariknya. Jika laut sehat, pariwisata memiliki masa depan.

Sumber: pelakita.id

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks