LINKARFAKTA.COM — Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare untuk pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar, bagian dari pengejaran target E50. Persiapan dilakukan setelah rapat terbatas yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto tiga hari berturut-turut. Sebanyak 44 bupati menyatakan dukungan dan langsung menggelar audiensi pagi-pagi di kediaman Amran.
Persiapan itu dilakukan setelah pemerintah menggelar rapat terbatas yang diarahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Amran menyebut arahan datang tidak hanya lewat ratas, tetapi juga melalui telepon langsung dari kepala negara.
"Hari ini kami rapat hubungannya etanol, sumbernya adalah singkong, tebu, dan jagung. Itu atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, tiga hari berturut-turut ratas, maupun ditelepon beliau," kata Amran kepada wartawan usai menerima audiensi 44 bupati terkait bioetanol di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Tiga Komoditas Andalan: Tebu, Singkong, Jagung
Pengembangan bioetanol akan bertumpu pada tiga komoditas utama, yakni tebu, singkong, dan jagung. Dari ketiganya, tebu menjadi fokus paling besar karena kebutuhan lahannya paling luas.
Amran menyebut pemerintah membutuhkan sekitar 1 juta hektare khusus untuk tebu. Sementara kebutuhan lahan untuk keseluruhan program etanol mencapai 1-2 juta hektare.
"Tetapi yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Para Dirjen dari Kementerian Kehutanan, Planologi, kemudian Deputi dari BUMN, kita akan bergerak bersama," tutur dia.
Pemerintah akan membuka lahan untuk menanam tebu, ubi atau singkong, serta jagung yang kemudian diolah menjadi etanol. Amran menyebut mimpi besar pemerintah adalah mewujudkan B50 lebih dulu, lalu berlanjut ke E50.
44 Bupati Merapat, Audiensi Digelar Sejak Pukul 06.00
Dukungan datang cepat dari daerah. Sebanyak 44 bupati menyatakan kesiapannya mendukung program bioetanol dan menggelar audiensi di kediaman Amran.
Rapat dengan para bupati itu digelar sejak pukul 06.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 08.50 WIB. Menurut Amran, pemerintah akan mulai melakukan konsolidasi lahan dalam waktu dekat.
"Insyaallah kita akan mulai bergerak sekarang, dan tahun depan mudah-mudahan sudah mulai tanam," ujarnya.
Bertahap Menuju E50, E20 Diproyeksi 2029
Pengembangan bioetanol akan dilakukan secara bertahap. Amran memperkirakan Indonesia dapat mencapai E20 pada 2029, kemudian meningkat menuju E40 pada 2030-2031.
"Iya dong. Mungkin E5, E10, E20 di 2029. Bisa prakiraan kita, menuju nanti, bisa kita hitung ya kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030-2031," ucapnya.
Kebutuhan investasi industri pengolahan etanol akan melibatkan BUMN dan swasta. Pemerintah akan memprioritaskan kemampuan BUMN terlebih dahulu sebelum memberikan ruang kepada swasta.
"BUMN kita upayakan, kita prioritaskan BUMN dulu. Kalau BUMN oke, sudah maksimal, bisa 30 persen, bisa 40 persen, bisa 50 persen. Pokoknya berapa kemampuan BUMN, sesudah itu swasta," ujar dia.
Kepastian Lahan Jadi Kunci Tarik Investasi
Menurut Amran, kepastian lahan menjadi faktor utama untuk menarik minat investor swasta membangun pabrik etanol. Pengalaman sebelumnya menunjukkan swasta cenderung menunggu kejelasan sebelum masuk.
"Dan swasta pasti antre. Pengalaman kami, (swasta) antre. Yang penting kepastian lahan. Makanya ini lahan kita menjadi prioritas," katanya.
Persoalan lahan dan legalitas disebut menjadi salah satu hambatan utama. Pemerintah akan mengawal proses penentuan hingga legalitas lahan agar program tidak tersendat.
"Itu lahan dulu, penentuan lahan, legalitas lahan. Dan itu dikawal oleh pemerintah," ujar Amran.
Amran memastikan pemerintah tidak akan langsung membuka kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan lahan etanol. Pemerintah akan memanfaatkan lahan yang sudah tersedia terlebih dahulu.
"Jadi gini, kita melihat lahan yang.. pertama kan ada lahan yang mau dihutankan kembali atau agroforestri untuk tanaman pangan. Itu kan ada 20 juta. Ya kita pilih dari situ dulu. Jadi jangan langsung babat hutan. Nggak, itu terakhir," katanya.
Selain itu, pemerintah akan menyeleksi sekitar 1,3 juta hektare lahan yang telah dilepaskan untuk melihat kesesuaiannya dengan tanaman tebu.
"Yang kedua adalah, seluruh yang sudah dilepaskan kita pilih, ada 1,3 juta hektare. Kita pilih lagi. Kalau sudah cocok dengan tebu, oke, itu saja kita pakai. Paling terakhir baru pelepasan hutan. Itu paling terakhir," tutur Amran.
Ia menegaskan pengembangan etanol tetap akan memperhatikan aspek lingkungan. Keseimbangan antara kebutuhan energi dan kelestarian alam menjadi perhatian pemerintah.
"Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi," pungkasnya.
Program bioetanol ini menjadi ujian bagi Indonesia dalam mengurangi ketergantungan impor bahan bakar sekaligus memanfaatkan potensi pertanian domestik. Keberhasilan tahap awal konsolidasi lahan akan menentukan apakah target E20 pada 2029 bisa dikejar tepat waktu.