Pencarian

Kebakaran Hutan di Gunung Lemongan Lumajang Padam Total dalam 8,5 Jam, BPBD Sebut Deteksi Dini Kunci

Jumat, 04 September 2026 • 03:36:31 WIB
Kebakaran Hutan di Gunung Lemongan Lumajang Padam Total dalam 8,5 Jam, BPBD Sebut Deteksi Dini Kunci
Petugas gabungan memadamkan api di kawasan Perhutani RPH Ranupakis, Gunung Lemongan, Lumajang, Kamis (tanggal).

LUMAJANG — Api yang melanda Blok Gunung Fuji, Petak 19D, di kawasan Perhutani RPH Ranupakis berhasil dikendalikan tanpa perlu menunggu bantuan udara. Titik api berada di sisi kanan makam Mbah Citro, area yang kerap menjadi jalur pendakian Gunung Lemongan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menyebut keberhasilan ini menunjukkan pentingnya sistem deteksi dini dan koordinasi lintas sektor. "Pemadaman dilakukan secara manual dengan menggunakan gepyok, jet shooter dan membuat sekat bakar agar titik api tidak semakin meluas," katanya, Kamis.

Kronologi: Dari Pantauan Sipongi hingga Api Padam

Peristiwa ini pertama kali terpantau pukul 13.30 WIB melalui aplikasi Sipongi yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Namun, Pusdalops BPBD Lumajang baru menerima laporan resmi pada pukul 18.06 WIB.

Empat belas menit kemudian, api masih terlihat membara di sekitar Petak 19D. Regu siaga BPBD bersama Babinsa Papringan dan personel Polsek Klakah langsung bergerak menuju kawasan pendakian Gunung Lemongan atau area Mbah Citro.

Tim tiba di pintu pendakian sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah apel bersama, personel bergerak menuju lokasi kebakaran pukul 21.15 WIB dan berhasil memadamkan api total pada pukul 22.00 WIB—kurang dari satu jam sejak tiba di titik api.

Metode Pemadaman Manual di Medan Berat

Pemadaman dilakukan secara manual dengan mempertimbangkan kondisi medan yang sulit dijangkau kendaraan. Petugas menggunakan gepyok—alat pemukul tradisional untuk api—serta jet shooter dan dahan basah untuk memutus rantai pergerakan api.

Sekat bakar juga menjadi strategi utama. Metode ini sengaja dibuat untuk menghentikan laju api agar tidak merambah petak hutan lain yang masih hijau.

Kolaborasi Lintas Instansi Kunci Keberhasilan

"Kolaborasi tersebut memungkinkan penanganan dilakukan secara bersama sesuai peran masing-masing," ujar Isnugroho.

Selain Perhutani dan BPBD, penanganan melibatkan TNI, Polri, LMDH, Dinas Sosial, serta unsur masyarakat dan potensi lainnya. Keterlibatan warga sekitar hutan menjadi faktor penting karena mereka paling cepat mengetahui keberadaan titik api di lapangan.

Pelajaran bagi Masyarakat: Jangan Menunggu Api Membesar

Kejadian ini menegaskan bahwa laporan kebakaran hutan tidak boleh ditunda. Informasi awal mengenai asap atau titik api mempercepat respons petugas dan mencegah kebakaran meluas.

Masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok atau membakar sampah di area rawan. Temuan indikasi kebakaran segera dilaporkan kepada aparat desa atau petugas kehutanan terdekat.

Pihak BPBD juga mengingatkan bahwa penanganan karhutla tidak berhenti ketika kobaran api telah padam. Kondisi kawasan tetap perlu dipantau untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali.

Keberhasilan pemadaman di Gunung Lemongan menjadi contoh bahwa kesiapsiagaan, informasi cepat, akses menuju lokasi, dan koordinasi lintas sektor merupakan satu rangkaian penting dalam perlindungan kawasan hutan. Partisipasi warga melalui kewaspadaan dan pelaporan dini menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus keselamatan bersama.

Sumber: jatim.antaranews.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks