Kebakaran Hutan Bromo-Semeru Dinilai Jadi Sasmita Alam, Pengamat: Keserakahan Manusia Picu Bencana
DENPASAR — Jro Gde Sudibya, pengamat kecenderungan masa depan yang juga intelektual Bumi Nusantara, mengaitkan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Semeru-Bromo dengan perspektif sejarah spiritualitas dan kekuasaan. Menurutnya, peristiwa ini merupakan refleksi atas kerusakan alam yang dipicu oleh perilaku manusia.
“Hutan dan tanah terbakar karena keserakahan manusia. Dalam ungkapan bahasa Bali, ‘pertiwi, wana geseng olih kemomoan sang manusa’,” kata Jro Gde Sudibya di Denpasar, Sabtu (22/8/2026).
Api di Wilayah Sakral: Pertanda Hubungan Semeru-Bromo
Dalam tradisi tua Nusantara yang dipengaruhi Agama Hindu, Gunung Bromo diyakini sebagai Lingga Tuhan Brahma, sementara Gunung Semeru merupakan Lingga Tuhan Wisnu. Jro Gde Sudibya menjelaskan, gabungan keduanya—AIR dan API—pada tingkat ideal melahirkan suasana lingkungan yang tenang dan damai.
“Kebakaran dahsyat di kawasan ini sasmitanya adalah kekuatan Tuhan Brahma yang menghabisi kawasan yang semestinya memberikan vibrasi ketenangan,” ujarnya.
Dampak El Nino: Titik Api Meluas Hingga ke Negara Tetangga
Fenomena kebakaran ini terjadi di tengah prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai El Nino dengan intensitas tinggi di Bumi Nusantara. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Oktober 2026 hingga Desember 2026, dan berlanjut hingga tiga bulan pertama tahun 2027.
Dalam satu bulan terakhir, suhu panas telah membakar hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan dalam skala massif. Bahkan, asap dari kebakaran tersebut telah “diekspor” hingga ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
Korporasi dan Lemahnya Penegakan Hukum Lingkungan
Jro Gde Sudibya menyoroti pola kebakaran yang terus berulang, terutama pembakaran untuk penyiapan lahan sawit. Ia mencatat, praktik ini pernah mencapai 2,3 juta hektare dalam satu tahun.
“Pembakaran terus berlangsung, penegakan aturan hukum lingkungan yang lemah, sehingga tidak memberikan dampak jera bagi korporasi yang melakukan pembakaran hutan untuk penyiapan lahan industri sawit,” tegasnya.
Antisipasi Bencana Lebih Dahsyat Hingga Pergantian Kekuasaan
Dalam perspektif hubungan mikro-makro kosmos, Bhuwana Agung-Bhuwana Alit, kebakaran ini bisa menjadi tanda dari “kebakaran” diri banyak manusia karena keserakahan pikirannya. Efek berantai dari jutaan manusia ini dinilai membawa dampak menjalar bagi kebakaran hutan dan lahan.
Jro Gde Sudibya memperingatkan agar peristiwa ini diantisipasi sebagai awal dari kebakaran hutan, lahan, dan kawasan pemukiman yang semakin dahsyat di Bumi Nusantara. Ia juga mengaitkannya dengan potensi “goro-goro” atau gejolak pergantian kekuasaan.