Pencarian

Insentif Likuiditas BI Rp118 Triliun ke Perumahan Bangun 115.600 Unit

Senin, 12 Oktober 2026 • 08:02:31 WIB
Insentif Likuiditas BI Rp118 Triliun ke Perumahan Bangun 115.600 Unit
Bank Indonesia salurkan insentif likuiditas Rp118 triliun ke sektor perumahan pada Juni–Juli.

LINKARFAKTA.COM — Bank Indonesia menyalurkan insentif likuiditas Rp118 triliun ke sektor perumahan pada periode Juni hingga Juli, dengan sekitar Rp68 triliun mengalir ke rumah-rumah program pemerintah. Pembiayaan itu mendukung pembangunan hingga 115.600 unit rumah dan membuka ratusan ribu lapangan kerja langsung. Dampaknya menjalar ke permintaan semen, batu bata, genteng, hingga usaha kecil di sekitar proyek.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan rincian penyaluran insentif itu dalam wawancara dengan CNBC Indonesia yang dikutip Senin (12/10/2026). Dari total Rp118 triliun, porsi terbesar masuk ke sektor perumahan yang terkait program pemerintah.

"Nah ternyata dari Rp 118 triliun itu ada sekitar hampir Rp 70 triliun, jadi Rp 68 sekian triliun, itu masuk ke sektor perumahan yang untuk rumah-rumah yang programnya pemerintah. Dan itu ternyata bisa membangun hingga sebesar 115.600 unit rumah," ungkap Destry.

Ratusan Ribu Lapangan Kerja Terbuka dari Setiap Unit Rumah

Destry menyebut insentif perumahan turut membuka penciptaan berkisar ratusan ribu lapangan kerja. Angka itu merujuk informasi dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait bahwa satu unit rumah melibatkan sekitar empat tenaga kerja secara langsung.

"Jadi itu dampaknya itu sangat luas sekali. Direct effect-nya kita langsung bisa ngeliat, itu ada empat kali 115an ribu, dampak tidak langsungnya ya ini kita bisa turun, hitung secara granular, tapi tentu kan butuh waktu," ujar Destry.

Dampak tidak langsungnya masih memerlukan penghitungan lebih terperinci, termasuk kontribusi rantai pasok dan aktivitas ekonomi pendukung. Namun arahnya sudah terlihat: permintaan semen, batu bata, genteng, jasa transportasi, hingga usaha kecil di sekitar lokasi proyek ikut bergerak.

Mekanisme KLM: Bank Dapat Keringanan GWM 1,25%-1,5%

Insentif kepada perumahan tersebut merupakan bagian dari Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Lewat mekanisme ini, bank yang memenuhi kriteria memperoleh pengurangan kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) sehingga punya tambahan ruang likuiditas untuk menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

Untuk sektor perumahan, Destry menyebut besaran pengurangan GWM yang dikaitkan dengan insentif berada di kisaran 1,25% hingga 1,5%. Artinya, setiap bank yang menyalurkan kredit perumahan sesuai kriteria bisa mengurangi setoran GWM-nya, dan selisih itu menjadi amunisi pembiayaan baru.

Kebijakan KLM dijalankan BI melalui sinergi dengan kementerian dan lembaga lain, koordinasi dengan anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), serta pihak berkepentingan lainnya. BI menyebutnya sebagai Sinergi Merah Putih.

"Tapi artinya, inilah kebijakan yang kita juga ingin gak kebijakan asal kebijakan, tapi bagaimana kebijakan itu juga bisa memberikan dampaknya terhadap pertumbuhan sektoril dan juga penciptaan lapangan kerjaan," imbuh Destry.

Sinergi Merah Putih dan Tanggung Jawab Bersama

Destry menegaskan sinergi perlu dilakukan karena pembangunan, kemajuan, serta stabilitas Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, Sinergi Merah Putih menunjukkan Bank Indonesia dan pihak berkepentingan lain memiliki semangat kebangsaan dan rasa nasionalisme.

"Jadi sekecil apapun kontribusi kita, itu pasti akan memberikan dampak positif kepada negara kita tercinta," tuturnya.

Bagi pelaku industri properti dan perbankan, angka Rp68 triliun yang sudah terserap pada dua bulan itu menjadi sinyal bahwa insentif KLM berjalan sesuai jalur. Bank yang belum memanfaatkan keringanan GWM untuk kredit perumahan berpotensi kehilangan ruang likuiditas tambahan yang bisa dipakai mengejar pertumbuhan kredit di sektor prioritas.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks