Pencarian

Perdagangan Pangan Indonesia: Implikasi Impor Daging dan Ekspor Tapioka

Selasa, 15 September 2026 • 20:23:01 WIB
Perdagangan Pangan Indonesia: Implikasi Impor Daging dan Ekspor Tapioka
Impor daging meningkat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani domestik.

LINKARFAKTA.COM — Perdagangan pangan Indonesia menunjukkan dinamika dua arah, dengan peningkatan impor daging untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dan ekspor pati singkong yang terus berkembang. Keduanya menghadapi tantangan teknis yang terkait dengan sertifikasi dan rantai pasok yang efisien.

Perdagangan pangan Indonesia kerap dianggap sebagai satu arus tunggal, namun kenyataannya bergerak dalam dua arah. Di satu sisi, ada kebutuhan akan daging yang tidak sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi domestik, sehingga berdampak pada peningkatan impor. Di sisi lain, komoditas lokal seperti pati singkong justru berpeluang menembus pasar internasional.

Impor Daging: Tantangan Rantai Dingin

Konsumsi protein hewani di Indonesia telah meningkat, dan produksi dalam negeri belum sepenuhnya dapat mengimbangi permintaan tersebut. Akibatnya, produk daging impor menjadi solusi untuk menutup defisit ini. Salah satu tantangan utama dalam distribusi daging adalah menjaga mutu dan keamanan produk, yang sangat bergantung pada sistem rantai dingin.

PT Suri Nusantara Jaya, sebagai importir dan distributor daging, beroperasi lebih dari 25 tahun di industri ini. Perusahaan ini memiliki lebih dari 30 titik distribusi dan sekitar 150 armada pengangkutan. Dengan struktur usaha yang mencakup logistik, ritel, pengolahan, dan kuliner, mereka mampu menjaga mutu produk sejak masuk pelabuhan hingga ke tangan konsumen.

Ekspor Pati Singkong: Peluang Pasar Internasional

Sebaliknya, komoditas pati singkong, yang dikenal sebagai tepung tapioka di Indonesia, telah menunjukkan perkembangan signifikan di pasar ekspor. PT Agroloka Indo Varian berperan sebagai eksportir dan pemasok pati singkong, bekerja sama dengan petani lokal untuk memastikan pasokan yang stabil. Produk-produk yang dihasilkan memiliki sertifikasi BPOM dan Halal, serta mengikuti standar ISO dan HACCP untuk menjamin keamanan pangan.

Pati singkong memiliki berbagai aplikasi, mulai dari industri pangan hingga non-pangan. Di sektor pangan, pati ini digunakan dalam produk bakeri, saus, dan mi, sedangkan di sektor non-pangan, pati digunakan dalam produksi kertas dan kosmetik. Hubungan yang terjalin dengan pembeli di Malaysia, India, dan beberapa negara lain menunjukkan potensi besar untuk penetrasi pasar lebih lanjut.

Kesimpulan: Dua Arah Perdagangan Pangan

Perdagangan pangan Indonesia beroperasi dalam dua arah yang saling melengkapi. Sementara impor daging membantu memenuhi kebutuhan protein domestik, ekspor pati singkong membawa potensi pendapatan bagi petani lokal. Keduanya menuntut perhatian pada aspek sertifikasi dan rantai pasok untuk memastikan keberhasilan di pasar masing-masing.

Sumber: surabayapost.id

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks