LINKARFAKTA.COM — Kementerian Pariwisata memperkuat upaya pemerataan investasi ke berbagai wilayah Indonesia, terutama di luar Jakarta dan Bali. Tujuannya memperluas manfaat ekonomi sektor pariwisata melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan realisasi investasi pariwisata Indonesia mencapai rekor Rp73,56 triliun pada 2025. Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah sektor pariwisata nasional.
Dominasi Jakarta dan Bali Jadi Sorotan
Sekitar 76,5 persen investasi pariwisata masih berada di Jakarta dan Bali. Dari jumlah tersebut, 75 persen di antaranya berupa pembangunan hotel dan restoran.
"Saat ini sekitar 76,5 persen investasi pariwisata berada di Jakarta dan Bali, dengan 75 persen di antaranya berupa pembangunan hotel dan restoran. Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta," kata Menpar Widiyanti.
Kondisi ini menunjukkan ruang perluasan investasi masih terbuka lebar, baik dari sisi wilayah maupun ragam usaha. Pemerintah pun aktif mengundang investor asing dan mitra internasional, termasuk melalui dukungan KADIN Indonesia.
13 Destinasi Prioritas dan 10 KEK Pariwisata Jadi Target
Investasi diarahkan ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Sektor yang dibidik tidak lagi terbatas pada hotel dan restoran, melainkan juga infrastruktur pendukung aksesibilitas seperti marina kapal pesiar serta pengembangan daya tarik wisata baru.
Diversifikasi ini diharapkan membentuk ekosistem pariwisata yang lebih kuat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi daerah. Pemerintah menyiapkan sejumlah fasilitas kemudahan bagi investor.
"Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht," ujar Menpar Widiyanti.
Danau Toba hingga Lombok Tunjukkan Pertumbuhan Kuat
Pergeseran pola perjalanan wisatawan membuka peluang pemerataan investasi. Wisatawan tidak lagi hanya berpusat di Jawa dan Bali, sejumlah destinasi luar kawasan itu mencatat pertumbuhan kunjungan signifikan pada awal 2026.
Kunjungan ke Danau Toba tumbuh lebih dari 106 persen. Lombok–Gili Tramena meningkat 72,1 persen, sementara Labuan Bajo terus menunjukkan pertumbuhan dan dinilai prospektif untuk pengembangan investasi pariwisata.
"Pemerintah memastikan kawasan wisata utama tersebut dalam kondisi aman dan siap menyambut pengunjung di tengah upaya pemulihan pascadampak bencana di wilayah Flores," kata Menpar Widiyanti.
Kontribusi PDB Pariwisata Naik ke Rp1,14 Kuadriliun
Kinerja ekonomi pariwisata nasional bergerak positif. Kontribusi produk domestik bruto (PDB) pariwisata meningkat dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025, dan ditargetkan mencapai Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026.
"Pertumbuhan positif ini menjadi modal besar bagi Kementerian Pariwisata bersama mitra strategis, termasuk KADIN Indonesia dan mitra internasional, untuk terus bersinergi memperkuat pariwisata sebagai salah satu kekuatan yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional, membuka peluang investasi, serta menggerakkan usaha dan lapangan kerja di berbagai daerah," kata Menpar Widiyanti.
Sumatra Barat Tawarkan Tiga Klaster Investasi
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi yang hadir dalam forum memaparkan potensi daerahnya. Sepanjang Januari–Juli 2026, kunjungan wisatawan nusantara di Sumatra Barat mencapai 14,9 juta, dengan pertumbuhan sektor akomodasi, makanan, dan minuman sebesar 17,57 persen.
Sumatra Barat mengelompokkan tiga klaster peluang investasi. Mentawai dengan daya tarik surfing kelas dunia, Padang dan Mandeh dengan wisata bahari dan MICE, serta Sawahlunto dengan wisata berbasis sejarah dan budaya.
"Kami mengajak para investor dan industri untuk datang dan melihat langsung potensi pengembangan pariwisata di Sumatra Barat termasuk hadir pada Indian Ocean High-Level Forum pada tahun depan sebagai bagian dari jejaring strategis kerja sama kawasan Samudra Hindia," ujar Gubernur Mahyeldi.
Singapura Soroti Konektivitas dan Kerja Sama Swasta
Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng menilai forum ini mendorong kerja sama tidak hanya antar pemerintah (G to G), tetapi juga antar sektor swasta kedua negara.
Singapura dan Indonesia memiliki rekam jejak kerja sama panjang di sektor pariwisata. Singapore Airlines, contohnya, telah menghubungkan 18 titik di Indonesia dari Singapura.
"Peningkatan konektivitas ini telah mendatangkan lalu lintas wisatawan. Semuanya dimulai dari skala kecil, sebelum akhirnya berkembang," kata Dubes Kwok Fook Seng.
Keberadaan KADIN dinilai penting karena menghimpun pelaku usaha dengan pengalaman, kapabilitas, dan keahlian mumpuni. Sinergi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci mempercepat realisasi investasi di destinasi prioritas luar Jawa dan Bali.