Harga Mobil Listrik China Kini Setara LCGC, Calya dan Agya Tertekan

Harga mobil listrik China kini bersaing langsung dengan LCGC seperti Toyota Calya dan Daihatsu Sigra.
Penulis: Farah
Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:04:31 WIB

LINKARFAKTA.COM — Segmen kendaraan murah di Indonesia tak lagi eksklusif milik Low Cost Green Car (LCGC). Setelah lebih dari satu dekade LCGC mendominasi, sejumlah pabrikan asal China mulai merangsek masuk dengan mobil listrik yang banderolnya mepet bahkan di bawah harga LCGC.

Data harga terbaru menunjukkan tumpang tindih yang nyata. Wuling Aira EV dibanderol Rp155 juta hingga Rp175 juta, sementara Vinfast VF3 dengan skema sewa baterai dilego Rp156 juta. Angka itu bersaing langsung dengan Daihatsu Sigra yang dipatok Rp144,2 juta sampai Rp173 juta dan Toyota Calya Rp170,7 juta hingga Rp193,7 juta.

Peta Harga LCGC yang Tersisa

Pilihan LCGC saat ini menyusut drastis. Hanya tiga merek yang bertahan: Daihatsu, Toyota, dan Honda. Segmennya pun cuma dua, mini MPV dan hatchback.

  • Daihatsu Sigra: Rp144,2 juta–Rp173 juta
  • Daihatsu Ayla: Rp143 juta–Rp198,9 juta
  • Toyota Calya: Rp170,7 juta–Rp193,7 juta
  • Toyota Agya: Rp174,3 juta–Rp201,7 juta
  • Honda Brio Satya: Rp170,4 juta–Rp206,7 juta

Deretan Mobil Listrik yang Mengusik Pasar LCGC

Pabrikan China tidak main-main menyerbu segmen ini. Mereka menawarkan teknologi elektrifikasi dengan harga yang selama ini mustahil untuk mobil listrik di Indonesia.

  • Wuling Aira EV: Rp155 juta–Rp175 juta
  • Vinfast VF3: Rp156 juta (sewa baterai), Rp230,13 juta (beli baterai)
  • Seres E1: Rp189 juta–Rp219 juta
  • BYD Atto 1: Rp199 juta–Rp245 juta
  • Changan Lumin: Rp222 juta
  • Chery QQ: Rp249,9 juta, Chery Rizz: Rp269,9 juta
  • Jaecoo J5 EV: Rp279,9 juta–Rp319,9 juta
  • Wuling Air EV: Rp214 juta–Rp307 juta

Biaya Operasional Jadi Medan Pertempuran Baru

Keunggulan LCGC selama ini jelas: harga beli murah, konsumsi bahan bakar irit, dan jaringan layanan purnajual yang luas hingga ke pelosok. Namun, mobil listrik menawarkan argumen berbeda yang tak kalah kuat, biaya operasional per kilometer yang jauh lebih rendah berkat tarif listrik rumah yang murah.

Bagi konsumen perkotaan dengan mobilitas harian tinggi, selisih biaya energi ini bisa terasa signifikan dalam hitungan bulan. Teknologi elektrifikasi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli muda yang ingin beralih ke kendaraan rendah emisi tanpa harus merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah lebih.

Persaingan ini baru akan memanas seiring bertambahnya pemain dan turunnya harga baterai. Keputusan akhir tetap di tangan konsumen: mempertahankan nilai jual kembali dan kemudahan perawatan LCGC, atau beralih ke mobil listrik dengan biaya harian yang lebih hemat.

Reporter: Farah