Tim Peneliti Unsri Perkenalkan Metode CTABC ke Kemendagri dan RSCM untuk Perkuat Penghitungan Tarif RSUD

Tim Peneliti Unsri memperkenalkan metode CTABC kepada Kemendagri dan RSCM untuk meningkatkan akurasi penghitungan tarif layanan RSUD.
Penulis: Farah
Jumat, 28 Agustus 2026 | 03:07:31 WIB

PALEMBANG — Inovasi metode penghitungan biaya layanan rumah sakit karya akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri) mulai dilirik di tingkat nasional. Tim peneliti memperkenalkan Cognitive Time-Driven Activity-Based Costing (CTABC) dalam pertemuan dengan jajaran Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri dan direksi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada 20 Agustus 2026.

Metode ini merupakan pengembangan dari pendekatan Activity-Based Costing (ABC) dan Time-Driven Activity-Based Costing (TDABC) yang selama ini menjadi rujukan penghitungan tarif.

Menghitung Beban Kognitif Tenaga Kesehatan

Keunggulan utama CTABC terletak pada kemampuannya memasukkan dimensi waktu kognitif dalam penghitungan biaya. Artinya, metode ini tidak hanya menghitung waktu fisik sebuah aktivitas pelayanan, tetapi juga memperhitungkan kompleksitas berpikir, pengambilan keputusan, konsentrasi, koordinasi, dan tanggung jawab tenaga kesehatan.

Dengan begitu, tarif yang dihasilkan diharapkan lebih mencerminkan beban kerja aktual para dokter dan perawat di RSUD.

Menjawab Kompleksitas Tarif RSUD/BLUD

Pertemuan di Kemendagri dan RSCM menjadi momentum untuk membahas harmonisasi kebijakan mengenai penghitungan biaya satuan dan penyusunan tarif RSUD/BLUD. Selama ini, penetapan tarif layanan rumah sakit seringkali menjadi perdebatan karena dasar penghitungannya dinilai kurang presisi.

Inovasi ini dikembangkan oleh tim peneliti yang beranggotakan Dr. Ika Sasti Ferina, S.E., M.Si., Ak., CA., ACPA; Prof. Diah Natalisa, S.E., M.B.A.; Prof. Isnurhadi, S.E., M.B.A.; Abdul Rohman, S.E., M.Si., CAAGA; Al Farissi, S.Kom., M.Cs., Ph.D.; Muhammad Qurhanul Rizqie, S.Kom., M.T., Ph.D.; serta Abdurahman, S.Kom., M.Han.

Diterima Langsung oleh Dirjen Bina Keuangan Daerah

Paparan di Kementerian Dalam Negeri diterima langsung oleh Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah. Sementara itu, kunjungan ke RSCM disambut oleh Direktur Utama, dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes.

Penerimaan di dua institusi strategis ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan akan metode penghitungan biaya yang lebih akurat di rumah sakit publik memang mendesak. Langkah selanjutnya, tim peneliti diharapkan dapat menindaklanjuti dengan uji coba di sejumlah RSUD, khususnya di Sumatera Selatan.

Reporter: Farah