Khofifah Dorong Regenerasi Budaya di Jawa Timur: 589 Seniman Topeng Malangan Aktif hingga Agustus 2026

Khofifah menekankan regenerasi budaya sebagai kunci pelestarian kesenian tradisional di Jawa Timur.
Penulis: Galih
Senin, 24 Agustus 2026 | 08:39:02 WIB

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan transfer pengetahuan budaya kepada generasi muda sebagai kunci utama pelestarian di tengah meningkatnya ekosistem kesenian tradisional. Data terbaru Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim mencatat lonjakan signifikan jumlah seniman Topeng Malangan dari 369 orang pada 2025 menjadi 589 orang hingga Agustus 2026. Khofifah menegaskan keberhasilan menjaga eksistensi budaya tidak hanya diukur dari banyaknya panggung pertunjukan, melainkan lahirnya generasi penerus yang memahami nilai dan filosofi seni tradisional.

MALANG — Regenerasi menjadi kata kunci dalam upaya pelestarian budaya di Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa proses transfer pengetahuan mengenai budaya kepada generasi muda harus berjalan masif agar kesenian tradisional tidak kehilangan penerusnya.

"Keberhasilan pelestarian budaya adalah lahirnya generasi baru yang mampu meneruskan. Jadi, kuncinya ada di regenerasi," kata Khofifah dalam keterangan resmi yang diterima di Kota Malang, Minggu.

Ekosistem Topeng Malangan Tumbuh: 15 Sanggar dan 589 Seniman Aktif

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari memaparkan, kesenian Topeng Malangan menjadi salah satu yang mendapat perhatian serius dalam program pelestarian. Data hingga Agustus 2026 mencatat terdapat 15 sanggar tari khusus Topeng Malangan, meningkat dari 11 sanggar pada tahun sebelumnya.

Jumlah seniman aktif juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Pada 2025 tercatat 369 seniman, namun kini jumlahnya telah mencapai 589 orang. Evy menilai pertumbuhan ini menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi kesenian khas Malang Raya tersebut.

"Pertumbuhan jumlah sanggar dan seniman aktif menunjukkan bahwa ekosistem Topeng Malangan terus berkembang. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus memastikan kesenian ini tetap hidup dan dekat dengan generasi muda," tutur Evy.

Bukan Sekadar Panggung: Filosofi dan Nilai Budaya Harus Diwariskan

Khofifah mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada penyediaan ruang pertunjukan. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang memahami nilai dan filosofi hingga memiliki keterampilan kesenian tradisional, maka proses regenerasi pelaku budaya bisa berjalan dengan masif.

"Jangan sampai sebuah kesenian memiliki panggung, tetapi kehilangan penerus," ujar dia.

Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini juga menyebut generasi muda memiliki kewajiban mengembangkan kebudayaan, termasuk seni tradisional, sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.

Pembangunan Ekosistem: Ruang Berkarya hingga Akses Ekonomi

Khofifah menekankan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keseimbangan antara pelestarian, regenerasi, penguatan kapasitas pelaku budaya, dan pembukaan akses ekonomi. Pembangunan ekosistem seni dan budaya perlu diperluas agar para pelaku mendapatkan jaminan ruang berkarya dan berkembang.

"Budayanya lestari, senimannya berdaya, generasi mudanya bangga, ekonomi kreatifnya tumbuh, dan masyarakatnya memperoleh manfaat," kata Khofifah.

Pengembangan seni dan budaya juga perlu dihubungkan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Langkah ini dinilai mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memastikan para seniman mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas yang digeluti.

Dengan tren pertumbuhan sanggar dan seniman yang positif, industri kreatif berbasis budaya di Jawa Timur dinilai memiliki prospek menjanjikan. Kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan sanggar menjadi kunci untuk memastikan kesenian tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah arus modernisasi.

Reporter: Galih