Titik Panas di Kaltim Capai 594 pada Minggu, Berau Tertinggi dengan 267 Hotspot, PPU Nol

BMKG mencatat 594 titik panas di Kalimantan Timur pada Minggu (23/8/2026), dengan konsentrasi tertinggi di Kabupaten Berau yang mencapai 267 hotspot.
Penulis: Doni
Senin, 24 Agustus 2026 | 03:13:01 WIB

BALIKPAPAN — Sebaran titik panas di Kalimantan Timur kembali mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data pemantauan BMKG yang dirilis Minggu (23/8/2026), total 594 hotspot terdeteksi di sepuluh kabupaten dan kota, dengan konsentrasi terbesar masih berada di wilayah utara dan tengah provinsi.

Dari data tersebut, Kabupaten Berau mencatatkan diri sebagai wilayah paling rawan dengan 267 titik panas. Angka ini hampir separuh dari total keseluruhan titik panas yang terpantau di Kaltim pada periode pengamatan sejak pukul 01.00 Wita.

Konsentrasi Titik Panas di Wilayah Utara dan Tengah

Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kutai Kartanegara dengan 120 titik dan Kutai Timur sebanyak 119 titik. Kabupaten Paser juga mencatatkan angka yang cukup tinggi, yakni 61 titik panas.

Sementara itu, wilayah perkotaan seperti Balikpapan dan Bontang masing-masing terdeteksi dua titik panas, sedangkan Samarinda hanya satu titik. Kondisi berbeda terjadi di Penajam Paser Utara yang tercatat nihil atau tidak memiliki titik panas sama sekali pada periode yang sama.

Rincian Sebaran Hotspot di 10 Wilayah Kaltim

  • Berau: 267 titik
  • Kutai Kartanegara: 120 titik
  • Kutai Timur: 119 titik
  • Paser: 61 titik
  • Kutai Barat: 15 titik
  • Mahakam Ulu: 7 titik
  • Balikpapan: 2 titik
  • Bontang: 2 titik
  • Samarinda: 1 titik
  • Penajam Paser Utara: 0 titik

Perlunya Penguatan Pemantauan Lapangan

Tingginya akumulasi titik panas di Berau, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan aparat setempat. Penguatan patroli lapangan serta langkah pencegahan dini dinilai krusial untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.

Meski jumlah di Balikpapan relatif kecil, pemantauan tetap diperlukan. Titik panas yang dibiarkan dapat berkembang menjadi api besar yang sulit dikendalikan, terutama jika kondisi angin kencang dan cuaca panas mendukung.

Data sebaran ini merupakan hasil pemantauan BMKG sepanjang Minggu (23/8/2026) pukul 01.00 hingga 17.00 Wita. Seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, perusahaan perkebunan, hingga masyarakat, diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi apapun.

Reporter: Doni