81 Buruh Gendong dan Tukang Becak Lukis Caping di Balaikota Solo, Cara Unik Peringati HUT ke-81 RI

Puluhan buruh gendong dan tukang becak melukis caping di Balaikota Solo dalam peringatan HUT ke-81 RI.
Penulis: Wahyu
Senin, 24 Agustus 2026 | 03:01:32 WIB

SURAKARTA — Puluhan buruh gendong dan pengemudi becak yang akrab disapa Mas Becak dan Yu Gendong itu tampak antusias menuangkan kreativitas dengan beragam warna dan gambar di atas caping anyaman bambu. Suasana di pelataran Balaikota pun berubah menjadi meriah, memadukan tradisi dan perayaan kemerdekaan.

Festival ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Perempuan Semesta Indonesia (Perisai) bersama Wanita Tani HKTI Jawa Tengah, Perisai Pancasila, P2LIPI, dan PPIR. Ketua Panitia, Ir Iir Kiryani AS MSi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung jalannya acara.

“Panitia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kegiatan hari ini. Mari kita ikuti acara ini sampai selesai,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Simbol Identitas Kota Solo dan Kepedulian pada Rakyat Kecil

Penasihat panitia, Dra Hj Amy S Kadiono, menegaskan bahwa keberadaan becak merupakan salah satu daya tarik sekaligus identitas Kota Solo. Menurutnya, melibatkan pengemudi becak dan buruh gendong dalam peringatan kemerdekaan memiliki makna tersendiri karena mereka adalah bagian dari rakyat yang patut mendapat perhatian.

“Kegiatan ini membawa semangat Jiwaku Pancasila, Bumiku Indonesia dan Dirgahayu Selamanya,” kata Amy.

Senada dengan itu, penasihat acara Erwin Arjayani yang juga Ketua PPLIPI Kota Surakarta menekankan pentingnya kepedulian terhadap masyarakat kecil. Ia menyebut para pengemudi becak dan buruh gendong merupakan bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat Kota Solo.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kepada masyarakat kecil. Mas becak dan mbak yu gendong adalah bagian dari masyarakat yang perlu kita perhatikan,” ujar Erwin.

Wali Kota Respati Ardi: Jaga Kerukunan dan Bijak Bermedia Sosial

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, yang hadir langsung dalam festival tersebut mengapresiasi inisiatif panitia yang melibatkan masyarakat kecil dalam perayaan HUT ke-81 RI. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan bijak dalam menerima informasi.

Respati menekankan pentingnya tabayun atau mencari kebenaran terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi. Ia meyakini kerukunan dan kebersamaan akan menjadi kekuatan bagi masyarakat dalam mewujudkan berbagai harapan dan cita-cita bersama.

Momen Kebersamaan di Pelataran Balaikota

Usai rangkaian sambutan, para peserta langsung bersemangat melukis caping secara bersama-sama. Setiap goresan kuas di atas caping bukan sekadar karya seni, melainkan simbol semangat kemerdekaan yang dirayakan secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat Surakarta.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam tersebut diharapkan mampu memperkuat rasa kebangsaan dan memberikan ruang ekspresi bagi kelompok masyarakat yang kerap terpinggirkan. Festival ini menjadi bukti bahwa peringatan kemerdekaan bisa dirayakan dengan cara yang sederhana namun sarat makna. [*]

Reporter: Wahyu