PGN Hadirkan Festival Ekonomi Hijau di Sleman, 4.500 Rumah Sudah Terpasang Jargas
LINKARFAKTA.COM — Festival yang berlangsung di kawasan Tiyasan ini bukan sekadar ajang hiburan. PGN, bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) dan Pemerintah Kabupaten Sleman, menyulap area tersebut menjadi ruang yang mempertemukan pelaku UMKM, warga, dan konsumen dalam satu ekosistem. Di sana, pengunjung bisa menikmati kuliner, menyaksikan pertunjukan, dan melihat langsung bagaimana gas bumi digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Kawasan Tiyasan sendiri mengalami perubahan signifikan dalam satu dekade terakhir. Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, mengungkapkan bahwa dulu wilayah ini hanya menjadi jalan pintas dari Ngaglik menuju Terminal Condongcatur. Kini, area tersebut mulai ramai dengan aktivitas ekonomi dan sosial.
"Sepuluh tahun lalu Tiyasan belum begitu familiar di Yogyakarta, khususnya di Sleman. Sekarang kita bisa meramaikan kawasan ini, anak-anak bisa berkumpul, dan ada perputaran rezeki bagi pelaku usaha maupun masyarakat," ujar Abu Bakar saat membuka festival, Sabtu (22/8/2026) malam.
Ekonomi Lokal yang Berputar
Kehadiran BUMN di tengah masyarakat disebut memberikan dampak langsung pada perekonomian warga. Abu Bakar menilai keterlibatan perusahaan negara dalam aktivitas lokal mampu menciptakan peluang usaha baru dan menghidupkan fasilitas pendukung di sekitar Tiyasan.
"Dengan keterlibatan BUMN seperti PGN dalam pelaksanaan aktivitas lokal, ada perputaran rezeki di situ. Baik bagi pelaku usaha, masyarakat, maupun warga Tiyasan," tambahnya.
Direktur Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BP BUMN, Edi Eko Cahyono, menegaskan bahwa festival ini merupakan wadah bagi UMKM untuk tumbuh. Ia berharap manfaat dari acara ini tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan usai.
"Kami memberikan wadah kepada UMKM dengan ekosistem yang dibutuhkan supaya UMKM kita semakin maju. Meskipun nanti kegiatan selesai, manfaatnya kami harapkan bisa terus berlanjut," kata Edi.
Energi Bersih untuk Usaha
Konsep green economic life yang diusung PGN diwujudkan dengan menghadirkan Compressed Natural Gas (CNG) untuk mendukung kegiatan usaha di festival. Direktur Infrastruktur & Teknologi PGN, Hery Murahmanta, menjelaskan bahwa ekosistem ini dirancang agar semua elemen saling terhubung.
"Secara ekonomi, bapak-ibu disiapkan tempat untuk berjualan agar bisa mandiri. Kita juga menyiapkan tempat untuk memasak dengan energi yang bersih," tutur Hery di hadapan para pelaku UMKM.
Ia menambahkan, "Kita bisa jualan, ada pembeli, ada hiburannya, ada energinya. Sehingga konsumen bisa nyambung semua. Ini kita harapkan menjadi langkah pertama."
Di luar ajang festival, PGN juga terus memperluas infrastruktur gas bumi di Sleman. Hery menyebutkan bahwa sekitar 4.500 sambungan rumah tangga telah terhubung dengan jaringan gas (jargas) di wilayah tersebut. Infrastruktur ini menjadi fondasi bagi masyarakat untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
"PGN Group berusaha menyiapkan infrastruktur untuk energi yang ada, dan energinya bisa berkesinambungan. Bapak-Ibu nanti bisa menggunakan CNG maupun gas yang selama ini sudah digunakan oleh saudara-saudara kita di Kabupaten Sleman," tukas Hery.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transisi energi di tingkat akar rumput. Dengan adanya akses energi bersih yang terjangkau, pelaku usaha kecil tidak hanya mendapatkan kepastian pasokan, tetapi juga turut berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.