Pencarian

13 Tanda Anak Tumbuh dari Keluarga Kurang Harmonis, Kenali Kebiasaannya

Rabu, 23 September 2026 • 09:02:31 WIB
13 Tanda Anak Tumbuh dari Keluarga Kurang Harmonis, Kenali Kebiasaannya
Anak yang tumbuh di keluarga kurang harmonis cenderung lebih berhati-hati dalam berbicara dan bersikap.

LINKARFAKTA.COM — Anak yang tumbuh di keluarga kurang harmonis sering membawa kebiasaan tertentu hingga dewasa, mulai dari selalu berhati-hati saat berbicara hingga sulit mengungkapkan perasaan. Kenali 13 tanda berikut agar ibu bisa lebih peka terhadap kondisi emosional anak dan mencari bantuan yang tepat sejak dini.

Masa kecil yang penuh ketegangan kadang baru terasa dampaknya saat seseorang beranjak dewasa. Kebiasaan yang dulu dianggap biasa bisa jadi cara anak bertahan menghadapi suasana rumah yang tidak stabil.

Anak yang tumbuh dalam keluarga kurang harmonis cenderung membawa pola ini ke dalam hubungannya saat besar nanti. Berikut 13 kebiasaan yang perlu ibu kenali, mengutip dari laman Bolde.

1. Selalu Berhati-hati agar Tidak Memicu Konflik

Anak yang tumbuh di keluarga yang kerap bertengkar terbiasa menjaga sikap dan ucapan agar tidak memicu konflik atau hukuman. Mereka juga jadi lebih peka terhadap perubahan nada bicara orang di sekitarnya.

Menurut penelitian Dr. Christine G. Wilson, paparan terus-menerus terhadap lingkungan penuh ketegangan dapat meningkatkan kecemasan saat dewasa.

2. Tidak Terbiasa Membicarakan Perasaan

Dalam keluarga yang kurang harmonis, membicarakan perasaan sering dianggap tabu. Anak akhirnya memendam emosi karena merasa tidak punya ruang untuk mengungkapkannya.

Kondisi ini membuat mereka sulit mengenali perasaannya sendiri, terbuka kepada orang lain, atau merasa nyaman menunjukkan kerentanan.

3. Batasan Pribadi Tidak Dihargai

Ruang pribadi yang sering dilanggar, seperti buku harian dibaca tanpa izin atau dipaksa menceritakan hal yang tidak ingin dibagikan, membuat anak merasa batas dirinya tidak dihargai.

Menurut terapis Nedra Glover Tawwab, menghargai batasan penting untuk hubungan yang sehat dan kesejahteraan diri seseorang.

4. Terbiasa dengan Konflik

Jika masa kecil dipenuhi pertengkaran dan tangisan, seseorang bisa terbiasa dengan situasi penuh drama. Ketika suasana kurang harmonis jadi hal biasa, ketenangan justru terasa asing.

Pola ini juga membuat seseorang sulit membedakan hubungan yang sehat dan yang tidak sehat.

5. Tanggung Jawab Terasa Berlebihan

Anak yang sejak kecil harus menjadi penengah konflik, mengurus anggota keluarga, atau menjaga adik menanggung beban yang terlalu berat untuk usianya.

Menurut konselor keluarga Dr. Kim John Payne, tanggung jawab seperti orang dewasa membuat anak kehilangan masa kecilnya. Saat besar, mereka cenderung mengambil terlalu banyak tanggung jawab hingga mengabaikan diri sendiri.

6. Banyak Rahasia dalam Keluarga

Keluarga yang penuh rahasia membuat anak bingung dan tidak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika menyimpan rahasia jadi kebiasaan, anak sulit mempercayai dan terbuka kepada orang lain.

7. Sering Menjadi Penengah

Anak yang sejak kecil sering menengahi pertengkaran keluarga biasanya tumbuh di lingkungan yang penuh konflik. Menurut psikolog Dr. Susan Heitler, terus-menerus menjadi penengah dapat memicu stres dan kelelahan.

Mereka juga merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain, beban yang terbawa hingga dewasa.

8. Jarang Mendengar Kata Maaf

Jika kata "maaf" jarang terdengar saat tumbuh besar, anak tidak terbiasa mengakui kesalahan dan memperbaiki keadaan. Saat dewasa, mereka sulit meminta atau menerima permintaan maaf dari orang lain.

9. Tidak Memiliki Privasi

Anak yang terbiasa tanpa privasi, misalnya orang di rumah masuk tanpa mengetuk pintu, sulit memahami pentingnya batasan pribadi. Saat dewasa, kondisi ini membuat seseorang merasa bersalah ketika ingin menyendiri.

10. Uang Sering Menjadi Masalah

Tumbuh dengan masalah keuangan yang terus-menerus membuat seseorang cemas terhadap uang hingga dewasa. Mereka bisa terlalu berhati-hati dalam mengelola keuangan atau justru kesulitan mengendalikan pengeluaran.

11. Merasa seperti Orang Asing di Keluarga

Anak yang tidak merasa terhubung dengan keluarganya cenderung tumbuh dengan perasaan terasing. Mereka merasa berbeda, tidak diterima, atau tidak punya tempat untuk pulang secara emosional.

12. Terbiasa dengan Perubahan

Ketidakstabilan suasana rumah membuat anak terbiasa dengan perubahan mendadak. Mereka belajar cepat beradaptasi, tapi sering kali dengan harga kehilangan rasa aman dan rutinitas yang menenangkan.

13. Terbiasa Menjadi "Orang Tua"

Anak yang sejak kecil mengambil peran orang tua bagi adik atau anggota keluarga lain kehilangan kesempatan untuk bersikap sesuai usianya. Pola ini terbawa hingga dewasa dalam bentuk kebiasaan mengurus orang lain tanpa memikirkan kebutuhan sendiri.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Jika ibu melihat anak sering cemas berlebihan, sulit mengungkapkan perasaan, atau menarik diri dari keluarga, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak. Pendampingan profesional membantu anak belajar mengenali emosi dan membangun rasa aman.

Ibu juga bisa mulai membuka ruang cerita di rumah, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghargai batasan pribadi anak sebagai langkah awal memutus pola yang tidak sehat.

Sumber: haibunda.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks