LINKARFAKTA.COM — Kapal induk Giuseppe Garibaldi resmi tiba di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan menjadi kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia. Kapal hibah dari Italia itu berlayar sejak 24 Agustus dan sempat singgah di Sri Lanka sebelum masuk perairan Indonesia lewat ALKI I. Kehadirannya menandai lompatan kapabilitas pertahanan laut Tanah Air.
Kapal memasuki kawasan pelabuhan sekitar pukul 07.58 WIB. Kedatangannya disambut tabuh gendang dan tim marching band TNI yang membawakan sejumlah lagu, termasuk "Si Jali Jali" khas Betawi.
Pejabat Tinggi Militer Menyambut Langsung
Sejumlah pejabat tinggi militer hadir menyambut kedatangan kapal. Mereka adalah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAL Laksamana Muhammad Ali, dan KSAU Marsekal Mohamad Tonny Harjono.
Giuseppe Garibaldi berangkat dari Italia sejak Senin (24/8). Sepanjang perjalanan, kapal dikawal kapal perang Angkatan Laut Italia dan sempat singgah di beberapa negara, salah satunya Sri Lanka.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menyebut kapal masuk wilayah perairan Indonesia melalui jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I atau perairan Bangka, Bangka Belitung. Dua kapal perang TNI AL, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, langsung mengawal.
Spesifikasi Teknis dan Riwayat Kapal
Nama kapal diambil dari patriot Italia abad ke-19, Giuseppe Maria Garibaldi. Kapal ini pertama kali diluncurkan pada 1983 dan menjadi kapal dek penerbangan pertama yang dibangun untuk Angkatan Laut Italia.
Giuseppe Garibaldi dirancang dengan kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal (STOVL). Meski fitur ini membatasi jenis pesawat yang bisa dibawa, kapal tetap mampu mengangkut berbagai helikopter untuk misi serbu.
Panjang kapal mencapai 180,2 meter dengan bobot sekitar 13,8 ribu ton. Sistem penggeraknya mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam.
Kapal ini menampung sekitar 600 kru inti, 230 personel grup udara, dan sekitar 100 personel komando. Dalam kondisi tertentu, kapal dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan.
Sistem Penggerak COGAG
Giuseppe Garibaldi memakai konfigurasi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang dibagi dalam dua ruang mesin terpisah demi faktor keselamatan. Mesin terdiri dari empat turbin gas General Electric/Avio LM2500 dengan daya total hingga 82.000 shp untuk memutar dua poros baling-baling.
Daya itu membawa kapal melaju hingga 30 knot dengan jangkauan operasional sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot. Enam generator mesin diesel Grand Motori Trieste B230/12 memasok kebutuhan listrik cadangan dan operasional seluruh sistem radar, navigasi, serta instrumen kapal melalui konsol terintegrasi SEPA 7614.
Persenjataan dan Sensor
Sebagai kapal induk yang mewarisi karakteristik kapal penjelajah, Garibaldi punya sistem pertahanan diri yang terbilang kuat dibanding kapal induk standar Angkatan Laut AS yang biasanya bergantung pada kapal pengawal.
Untuk pertahanan udara, kapal dilengkapi dua peluncur rudal delapan sel Selenia "Albatros" yang menampung total 48 rudal Aspide guna menangkal ancaman udara jarak menengah.
Pada bagian buritan awalnya dipasang delapan peluncur rudal anti-kapal OTOMAT MK-2, tapi dilepas pada 2003 untuk memperluas geladak penerbangan. Sistem pertahanan titik mengandalkan tiga meriam ganda Breda 40mm/70 yang terintegrasi dengan sistem Dardo, dengan jangkauan tembak hingga 4 km terhadap sasaran udara.
Untuk ancaman bawah air, dipasang dua tabung peluncur torpedo tiga laras jenis ILAS-3 berkaliber 324mm yang menggunakan torpedo ringan Mk 46 atau A-244.
Kedatangan Giuseppe Garibaldi menandai babak anyar bagi armada TNI AL. Sebelum diserahkan ke Indonesia, kapal ini menjalani upgrade besar di Taranto, Italia.