LINKARFAKTA.COM — Misi antariksa komersial biasanya berhenti di orbit Bumi, tapi Fermi Explorer punya ambitisi yang berbeda. Organisasi nirlaba yang baru diumumkan ini ingin menjadi yang pertama mengirim wahana antariksa ke Alpha Centauri, sistem bintang yang berjarak 41 triliun kilometer dari Bumi. Tim awal proyek ini terdiri dari pendiri Starcloud, Philip Johnston, Adi Oltean, Ezra Feilden, serta manajer program Garret Jameson.
Jika berhasil, wahana ini akan menjadi objek buatan manusia kelima yang meninggalkan tata surya, setelah Voyager 1 dan 2 serta beberapa wahana lain. Berbeda dengan pendahulunya yang bergerak secara gravitasi, Fermi Explorer dirancang khusus dengan target eksplisit menuju bintang lain, bukan sekadar melintas secara tidak sengaja.
Mengapa Perjalanan Butuh 80.000 Tahun?
Jarak ke Alpha Centauri mencapai 41 triliun kilometer — sekitar 1.576 kali jarak yang sudah ditempuh Voyager 1 sejak diluncurkan pada 1977. Dengan teknologi propulsi listrik yang ada sekarang, kecepatan maksimum yang bisa dicapai tidak akan cukup untuk mempersingkat waktu tempuh secara signifikan.
Pendekatan Fermi Explorer justru berlawanan dengan proyek sejenis sebelumnya. Alih-alih mengembangkan sistem propulksi laser revolusioner yang membutuhkan dana miliaran dolar, tim ini memilih menggunakan teknologi yang sudah terbukti. Philip Johnston menjelaskan bahwa mempersingkat waktu perjalanan menjadi 20-30 tahun membutuhkan program riset propulksi senilai miliaran dolar.
"Kami sengaja memilih 80.000 tahun sebagai misi minimum yang layak," kata Johnston. Dengan begitu, wahana bisa dibangun dari komponen yang sudah tersedia di pasar, bukan menunggu terobosan teknologi baru.
Rencana Teknis dan Muatan
Wahana Fermi Explorer dirancang dengan ukuran ringkas — muatan utama berbentuk persegi 10 sentimeter dengan berat total 1 kilogram. Rencananya, wahana akan diluncurkan sebagai muatan tambahan (rideshare) pada roket komersial yang sudah terjadwal. Setelah di orbit, wahana memakai propulsi listrik efisien untuk membangun kecepatan secara bertahap melalui serangkaian manuver gravitasi.
Fase aktif wahana diperkirakan berlangsung sekitar 12 tahun sebelum akhirnya memasuki fase meluncur bebas menuju Alpha Centauri. Setelah itu, wahana tidak akan lagi mengirim sinyal karena keterbatasan daya.
Johnston tetap optimistis soal ketahanan wahana dalam perjalanan panjang tersebut. "Jika tulang dinosaurus bisa bertahan 200 juta tahun, kotak logam bisa dengan mudah bertahan di lingkungan radiasi yang kami perkirakan untuk 50.000 tahun," ujarnya. Tim tidak berencana menyalakan wahana di ujung perjalanan, tetapi berharap peradaban manusia masa depan bisa mencegatnya.
Kontras dengan Breakthrough Starshot
Fermi Explorer bukan proyek pertama Silicon Valley yang mencoba menantang jarak antarbintang. Pada 2016, miliarder Yuri Milner dengan dukungan Mark Zuckerberg mendirikan Breakthrough Starshot yang mengusung konsep layar laser raksasa untuk mencapai Alpha Centauri dalam 20-30 tahun. Proyek tersebut membutuhkan investasi miliaran dolar dan akhirnya berhenti pada 2025.
Johnston mengakui sempat tertarik dengan pendekatan Starshot, tapi kemudian kecewa setelah melihat realisasi proyek tersebut. "Saya sempat antusias lalu kecewa," katanya. "Itulah alasan kami menjalankan misi ini. Kami bertekad meluncurkan sesuatu dalam tiga tahun."
Biaya, Pendanaan, dan Target Peluncuran
Fermi Explorer mengajukan anggaran USD 15 juta (sekitar Rp 247 miliar) — jumlah yang relatif kecil untuk standar misi antariksa. Organisasi ini kini membuka peluang bagi vendor untuk membangun wahana, donatur untuk mendanai, serta ilmuwan dan seniman yang ingin mengirimkan muatan, mirip dengan konsep Golden Record di wahana Voyager NASA.
Target peluncuran ditetapkan pada 2029. Tim berharap bisa memulai konstruksi wahana dalam waktu dekat setelah pendanaan terkumpul. Ini adalah misi dengan risiko tinggi, tapi tim menegaskan bahwa menggunakan teknologi siap pakai meningkatkan peluang keberhasilan secara signifikan dibandingkan menunggu terobosan fisika baru.
Bagi penggemar antariksa di Indonesia, misi ini menarik untuk diikuti karena membuktikan bahwa eksplorasi antarbintang tidak selalu membutuhkan teknologi fiksi ilmiah. Kadang, kemauan untuk memulai dengan langkah kecil justru menjadi pemicu pencapaian besar berikutnya.