Penelitian Science: Gunung Tersembunyi di Bawah Es Antartika Menjadi Kunci Bekunya Benua

Penelitian mengungkap proses geologi di dalam Bumi turut membentuk kondisi daratan Antartika Timur hingga menjadi lokasi awal terbentuknya lapisan es permanen.
Penulis: Rendra
Rabu, 02 September 2026 | 17:22:01 WIB

LINKARFAKTA.COM — Penurunan kadar karbon dioksida di atmosfer memang dianggap sebagai pemicu utama pendinginan global. Tapi itu tidak cukup menjelaskan mengapa Antartika membeku lebih dulu sementara Kutub Utara butuh waktu jauh lebih lama untuk punya lapisan es permanen.

Riset yang dipimpin peneliti University of Southampton ini menemukan bahwa proses di dalam Bumi ikut menyiapkan lokasi ideal bagi lahirnya es raksasa. Sejak superbenua Gondwana mulai pecah lebih dari 100 juta tahun lalu, gangguan di mantel Bumi yang disebut mantle waves secara perlahan mengangkat sebagian besar daratan Antartika Timur.

Bumi Lebih Hangat, tapi Es Tetap Menumpuk

Pada periode transisi Eosen-Oligosen sekitar 34 juta tahun lalu, konsentrasi CO2 atmosfer memang turun. Namun saat itu suhu Bumi masih 5 derajat Celsius lebih hangat dari hari ini. Jika hanya mengandalkan CO2, para peneliti menilai kedua kutub seharusnya membeku secara bersamaan.

Faktanya, Antartika membangun lapisan esnya jauh lebih cepat. Perbedaan utama ada pada kondisi daratan. Antartika adalah benua yang dikelilingi lautan, sedangkan Kutub Utara berada di tengah Samudra Arktik.

Daratan Terangkat hingga 2 Kilometer

Dalam rekonstruksi yang dimodelkan lewat komputer, sekitar 45 juta tahun lalu wilayah Antartika Timur tidak hanya meninggi, tetapi juga memiliki pegunungan yang kini terkubur es. Ketika daratan semakin naik, suhu di permukaannya turun drastis.

Salju yang jatuh tidak lagi habis meleleh saat musim panas. Es perlahan menumpuk dan menyebar, membentuk cikal bakal Lapisan Es Antartika Timur. Pegunungan bawah es itulah yang menyediakan titik awal akumulasi salju menjadi lapisan es permanen.

Simulasi 100 Juta Tahun: dari Gondwana ke Lapisan Es

Para peneliti menggabungkan model geologi, perubahan ketinggian daratan, iklim, dan dinamika es untuk merekonstruksi sejarah Antartika selama 100 juta tahun. Dr Thea Hincks dari University of Southampton mengatakan model tersebut mampu menggambarkan terbentuknya dataran tinggi, tebing pesisir, serta pegunungan yang menjadi lokasi awal es.

Prof Thomas Gernon, penulis utama riset, menjelaskan bahwa respons kutub terhadap perubahan iklim tidak simetris.

“Jika penurunan kadar CO2 terjadi sendirian, Anda akan mengharapkan kedua kutub merespons secara lebih simetris,” ujarnya dalam keterangan yang dirilis SpaceDaily.

Efek Albedo dan Masa Depan Es Antartika

Setiap lapisan es yang terbentuk memberi umpan balik lewat efek albedo. Permukaan es yang putih memantulkan energi matahari lebih banyak dibanding tanah gelap. Simulasi penelitian memperkirakan lapisan es Antartika yang terbentuk kemudian ikut menurunkan suhu global tambahan sekitar 1 derajat Celsius.

Meski begitu, proses geologi yang memakan puluhan juta tahun ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menganggap Antartika kebal dari pemanasan modern. Perubahan iklim saat ini berlangsung dalam skala abad, jauh lebih cepat ketimbang penyesuaian topografi.

Studi ini justru menegaskan bahwa sistem es Bumi dipengaruhi banyak faktor, termasuk atmosfer, lautan, dan proses di kedalaman planet. Saat ini, sebagian besar gunung yang turut membentuk dunia es Antartika masih tersembunyi di bawah lapisan es raksasa. Mereka adalah saksi dari proses geologi yang dimulai jauh sebelum manusia ada.

Reporter: Rendra