Bos Lamborghini Tantang Supercar China: "Bukan Ancaman, Mereka Cuma Bikin Mobil Listrik"

CEO Lamborghini Stephan Winkelmann menyatakan mobil listrik China bukan ancaman bagi produknya.
Penulis: Farah
Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:10:01 WIB

LINKARFAKTA.COM — Pasar supercar global sedang berubah. Pabrikan China seperti YangWang dan Denza mulai merilis mobil sport bertenaga listrik besar-besaran, bahkan mencatat rekor kecepatan. Namun di mata bos Lamborghini, angka tenaga yang gila-gilaan itu belum cukup untuk disebut sebagai pesaing sejati.

Argumen "Emosi" vs "Angka": Cara Lamborghini Membaca Pesaing

Stephan Winkelmann, CEO Lamborghini, secara gamblang menyebut bahwa mobil listrik China tidak bisa disamakan dengan produknya. "Kami tidak melihat ini sebagai ancaman, karena mereka membuat mobil listrik," ujarnya kepada Auto Express.

Baginya, supercar bukan sekadar soal akselerasi 0-100 km/jam atau jumlah tenaga yang tercetak di atas kertas. Karakter mesin, suara, dan sensasi berkendara adalah paket yang tak bisa ditiru oleh motor listrik murni. Ini adalah pembeda fundamental yang menurutnya masih menjadi keunggulan Lamborghini.

YangWang U9 dan Denza Z9: Bukti China Serius, Tapi Kurang "Jiwa"

Klaim Winkelmann muncul di tengah agresivitas pabrikan China. YangWang U9, misalnya, adalah supercar listrik yang sempat memecahkan rekor kecepatan untuk mobil produksi. Sementara itu, Denza meluncurkan Z9 dengan tiga motor listrik yang menghasilkan tenaga gila—hingga 1.582 dk.

Secara spesifikasi, angka-angka itu tentu mengesankan. Namun, Winkelmann menegaskan bahwa performa dari angka tenaga atau kecepatan maksimum bukanlah segalanya. "Jika kita mengatakan bahwa kita tak membuat mobil listrik karena suatu alasan, maka ada juga gagasan di balik cara kita memandang pesaing atau produsen China," tegasnya.

GWM Justru Membuktikan Kelemahan Mobil Listrik Murni

Menariknya, ada sinyal bahwa pabrikan China sendiri mulai sadar akan "celah emosi" yang disebut Lamborghini. Great Wall Motors (GWM) tengah mengembangkan supercar bermesin tengah yang tidak sepenuhnya mengandalkan tenaga listrik.

Model tersebut diproyeksikan menggunakan mesin V8 4.0 liter twin-turbocharged yang dipadukan dengan sistem plug-in hybrid. Mobil ini bahkan disebut akan menjadi pesaing langsung Ferrari SF90 Stradale dan menggunakan monokok serat karbon.

Langkah GWM ini justru mengonfirmasi argumen Winkelmann: untuk masuk ke pasar supercar kelas atas, suara dan karakter mesin pembakaran internal masih menjadi syarat mutlak yang sulit digantikan motor listrik.

Yang Perlu Diperhatikan dari Sikap Lamborghini

Pernyataan Winkelmann ini perlu dibaca dengan konteks. Lamborghini memang sudah memiliki rencana elektrifikasi sendiri, termasuk untuk model Lanzador yang akan datang. Jadi, pernyataan "kami tidak membuat mobil listrik" lebih merujuk pada penolakan terhadap full electric—bukan menolak teknologi hybrid sama sekali.

Kritik terhadap supercar China juga harus dilihat dari sisi pasar. Mobil listrik China seperti YangWang U9 dan Denza Z9 jelas bukan target pembeli yang sama dengan pemilik Lamborghini. Harganya pun berbeda jauh, sehingga perbandingan langsung antar keduanya menjadi kurang relevan di mata konsumen.

Meski begitu, pernyataan Winkelmann tetap menjadi tamparan bagi pabrikan China yang mengandalkan angka tenaga mentah. Di segmen supercar, sensasi dan karakter berkendara tetap menjadi raja—dan itu adalah sesuatu yang belum bisa dibeli dengan baterai berkapasitas besar.

Reporter: Farah