230 Guru di Karangsambung Kebumen Ikuti Pelatihan Model Pembelajaran, Ditekankan Tak Cukup Sampai Teori

guru di Karangsambung, Kebumen, mengikuti pelatihan model pembelajaran yang digelar selama lima jam.
Penulis: Rendra
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:16:31 WIB

KEBUMEN — Puluhan guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Karangsambung mendapat penguatan kapasitas melalui pelatihan model pembelajaran. Kegiatan yang diinisiasi tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) S2 MPI Pascasarjana IAINU Kebumen ini berlangsung selama lima jam, mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB.

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari guru kelas, tetapi juga guru Pendidikan Agama Islam (PAI) serta guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Besarnya jumlah peserta menjadi indikasi bahwa kebutuhan peningkatan kompetensi pendidik di wilayah tersebut masih sangat tinggi.

Efektivitas Pelatihan Diukur dari Perubahan di Kelas

Pesan utama yang coba ditanamkan dalam pelatihan ini adalah keberhasilan sebuah pelatihan tidak semestinya diukur dari jumlah peserta, ketebalan materi, atau sertifikat yang dibagikan. Ukuran yang jauh lebih krusial adalah apakah pengetahuan tersebut mampu mengubah pengalaman belajar siswa di dalam kelas.

Pengawas Sekolah Kecamatan Karangsambung, Suroto, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi antara komunitas guru dengan perguruan tinggi ini. Menurutnya, pengenalan model pembelajaran yang kontekstual sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan pendidikan saat ini.

Senada dengan itu, Pengawas Disdikpora Kecamatan Karangsambung, Nursoleh, S.Pd., menekankan pentingnya implementasi hasil pelatihan. Ia mengingatkan agar pengetahuan yang diperoleh para guru tidak berhenti di ruang kegiatan, melainkan diterjemahkan menjadi praktik yang sesuai dengan karakter siswa dan kondisi sekolah masing-masing.

Empat Model Pembelajaran yang Diperkenalkan

Tim PkM yang dipimpin Ketua Program Studi S2 MPI, Dr. Maryanto, M.Sc., memperkenalkan empat model pembelajaran yang dapat diadaptasi guru. Keempat model tersebut dipilih dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, materi, serta konteks sekolah.

Dr. Maryanto mengawali materi dengan Project Based Learning (PjBL). Model ini tidak hanya membahas konsep dan tahapan proyek, tetapi juga dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) serta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Harapannya, proyek yang dihasilkan siswa tidak sekadar menjadi produk akhir, melainkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, karakter, dan kolaborasi.

Materi

Reporter: Rendra