Pencarian

Karhutla Tanjung Puting Kalteng, Relawan Kewalahan dan Warganet Desak Water Bombing

Senin, 12 Oktober 2026 • 11:02:31 WIB
Karhutla Tanjung Puting Kalteng, Relawan Kewalahan dan Warganet Desak Water Bombing
Relawan gabungan YOHK dan HPI meninjau titik api di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

LINKARFAKTA.COM — Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memicu kekhawatiran publik setelah tim relawan mengaku kewalahan memadamkan api di lapangan. Tim gabungan Yayasan Orang utan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat bahkan menarik sementara personel dari kegiatan pemadaman. Desakan agar pemerintah mengerahkan bantuan pemadaman dari udara atau water bombing pun membanjiri media sosial.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Suharyanto, mengungkap kendala utama pemadaman karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting. Kabut asap yang tebal membuat visibilitas rendah sehingga pengoperasian helikopter untuk water bombing terhambat.

"Kendala karena visibility rendah jadi pemadaman lewat udara/heli WB terhambat," kata Suharyanto dikutip dari detikNews.

Kawasan konservasi yang jadi habitat asli orang utan ini memang menjadi salah satu destinasi wisata alam andalan Kalimantan Tengah. Kondisi karhutla yang belum tertangani tuntas langsung menimbulkan kekhawatiran, baik dari sisi ekologi maupun dampaknya bagi sektor pariwisata.

Relawan Tarik Personel, Minta Bantuan Water Bombing

Tim gabungan YOHK dan HPI Kotawaringin Barat menarik sementara personel dari kegiatan pemadaman. Langkah itu diambil setelah upaya pemadaman di lapangan dinilai belum menunjukkan hasil signifikan.

Melalui surat terbuka yang disampaikan lewat media sosial pada Minggu (11/10/2026), para relawan meminta pemerintah mengerahkan bantuan pemadaman dari udara. Water bombing dianggap sebagai opsi paling memungkinkan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses tim darat.

5.000 Komentar Banjiri Media Sosial

Pantauan detikTravel di kolom komentar akun Instagram @moncos_thepuntal_puntal, Senin (12/10), lebih dari 5.000 komentar membanjiri postingan terkait situasi karhutla Tanjung Puting. Warganet beramai-ramai memberikan dukungan sekaligus mendesak pemerintah mempercepat penanganan.

"Kalian semua pahlawan kita," tulis salah satu komentar.

Kekecewaan soal lambannya bantuan juga muncul. Salah satu warganet menyoroti status Tanjung Puting sebagai destinasi wisata dunia yang seharusnya mendapat perhatian lebih cepat.

"Tanjung Puting destinasi wisata dunia loh.. Kalau nggak teriak dulu, mana ada bantuan dan diperhatikan," bunyi komentar tersebut.

Doa untuk keselamatan para relawan turut membanjiri kolom komentar. Harapan agar pemerintah bergerak lebih sigap juga disampaikan warganet.

"Hebat banget kalian para relawan, semoga Allah jaga semuanya dan Allah lembutkan hati pemimpin-pemimpin negeri agar lebih banyak lagi bertindak," pernyataan netizen.

"Semangat, terima kasih bantuannya. Semoga Allah mudahkan, semoga pemerintah segera bertindak dengan cepat dan serius," tulis komentar lainnya.

Dampak bagi Wisata Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting selama ini dikenal sebagai lokasi wisata susur sungai dan pengamatan orang utan. Kabut asap serta titik api yang belum padam berpotensi mengganggu jadwal kunjungan wisatawan, terutama yang datang dari luar negeri.

Bagi traveler yang sudah memiliki rencana berkunjung ke kawasan ini, sebaiknya memantau perkembangan terbaru soal kondisi karhutla dan status akses masuk. Informasi terkini dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat atau pengelola taman nasional sebelum berangkat.

Penanganan karhutla di Tanjung Puting masih berlangsung. Perhatian publik kini tertuju pada langkah pemerintah untuk menambah bantuan pemadaman, baik lewat darat maupun udara, agar api tidak meluas ke area konservasi yang lebih luas.

Sumber: travel.detik.com

Follow linkarfakta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks