LINKARFAKTA.COM — Penutupan operasional melanda Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma hingga pukul 09.30 WIB akibat rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau. Gangguan mobilitas udara ini terjadi menyusul sebaran abu vulkanik pekat yang membubung hingga ketinggian puluhan ribu kaki di wilayah barat Indonesia. Otoritas penerbangan kini meminta seluruh calon penumpang memeriksa langsung status keberangkatan mereka ke maskapai terkait.

Kedutaan Besar AS turut mengimbau warganya di Indonesia agar memantau perkembangan berita lokal, terutama bagi mereka yang memegang tiket perjalanan udara, serta menjauhi area di sekeliling gunung api tersebut.

Sebaran Abu Vulkanik Membentang hingga Samudra Hindia

Kondisi ruang udara memburuk setelah abu letusan terdeteksi meluas. Pembaruan data BMKG berdasarkan citra satelit Himawari-9 pukul 04.00 WIB, yang disandingkan dengan catatan PVMBG serta VAAC Darwin, memperlihatkan dua klaster sebaran material vulkanik di atmosfer.

Klaster pertama berada dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki, melingkupi wilayah Banten, Jawa Barat, dan sebagian DKI Jakarta. Klaster kedua terlacak membubung hingga elevasi 50.000 kaki, bergerak menjangkau Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, sampai ke Samudra Hindia.

Dampak penutupan ini memperpanjang kekacauan jadwal terbang sejak akhir pekan. Di Bandara Soekarno-Hatta, sedikitnya 33 penerbangan terdampak per 5 September pukul 22.00 WIB, mencakup 16 jadwal internasional yang dibatalkan, 7 penerbangan ditunda, dan 5 rute dijadwalkan ulang.

Aktivitas Seismik Tertinggi Sepanjang Tahun 2026

Eskalasi letusan tercatat berlangsung sejak Jumat malam, 4 September, berlanjut ke Sabtu, 5 September, hingga Minggu dini hari. Badan Geologi Kementerian ESDM merekam sentakan seismik beruntun dari perut kawah.

"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 03:53 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik."

Geliat magma belum reda saat fajar tiba. Petugas pengamatan gunung api, Rioboniek Situmorang, mencatat erupsi susulan pada pukul 07.10 WIB dengan amplitudo maksimum mencapai 50 milimeter selama durasi 16 detik.

"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 07:10 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati."

Pekatnya kabut dan proses letusan yang sedang bergulir membuat tinggi kolom abu pada kedua peristiwa tersebut tidak dapat terlihat secara visual dari pos pantau.

Rekomendasi Jarak Aman Level III Siaga

Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak beranjak dari Level III (Siaga), status yang disematkan otoritas geologi sejak 2 Juli 2026. Bahaya lontaran material pijar membuat ruang gerak di sekitar pulau dibatasi secara ketat.

"Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif."

Pengelola bandara beserta otoritas navigasi udara masih mengevaluasi kondisi koridor penerbangan secara berkala seiring pergerakan mata angin dan intensitas erupsi susulan.