SIDOARJO — Kawasan hilir Sungai Brantas tercatat telah menghadapi ancaman luapan air besar sejak ribuan tahun lalu. Dokumen sejarah pada Prasasti Kamalagyan membuktikan bahwa Raja Airlangga menangani persoalan tersebut lewat proyek fisik berupa pembangunan tanggul pengontrol air.
Prasasti yang juga dinamai Prasasti Kelagen ini bertarikh 959 Saka atau 1037 Masehi. Hingga saat ini, batu bertulis dengan bahasa Jawa Kuno tersebut tetap berdiri di lokasi asalnya di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian.
Tanggul Waringin Sapta untuk Atasi Kerusakan Sawah
Berdasarkan catatan pada prasasti, banjir kala itu menggenangi permukiman warga serta merusak petak-petak persawahan produktif. Beberapa wilayah sima yang ikut terdampak limpasan air antara lain Lasun, Paliñjuwan, Sijayanaty?san, Pañjiganting, Talan, Da?apangka?, dan Pangkaja.
Kerusakan lingkungan air itu langsung mengancam ketahanan ekonomi wilayah yang bertumpu pada hasil panen padi. Kerajaan merespons ancaman tersebut dengan mendirikan dawuhan atau bendungan yang dikenal sebagai Waringin Sapta.
Kajian arkeologi mengenai prasasti tersebut menerangkan bahwa Desa Kamalagyan kemudian ditetapkan menjadi wilayah sima. Status istimewa ini disertai kewajiban warga setempat untuk merawat bendungan secara berkelanjutan.
Jalur Perahu Niaga Menuju Pelabuhan Kuno Hujung Galuh
Pembangunan tanggul Waringin Sapta tidak cuma menyelamatkan lahan pertanian warga, melainkan membuka kembali akses navigasi sungai. Setelah aliran air terkendali, perahu-perahu dagang kembali melintasi sungai dari hilir menuju ke kawasan hulu.
Prasasti Kamalagyan menyebut para nakhoda serta pedagang dari berbagai pulau berdatangan untuk mengambil barang dagangan di Hujung Galuh. Catatan ini memperlihatkan fungsi ganda Brantas sebagai sumber penghidupan agraris sekaligus urat nadi perdagangan antarpulau.
Titik pasti lokasi bandar Hujung Galuh sendiri masih menjadi bahan telaah sejumlah peneliti sejarah. Sebagian kajian mengaitkan keterangan menuju hulu pada prasasti dengan kawasan Canggu, meski lokasi absolutnya belum dipastikan secara tunggal.
Delta Brantas dalam Lanskap Sejarah Sidoarjo
Keberadaan monumen batu abad ke-11 ini menjadi bukti tertulis paling otentik mengenai aktivitas masyarakat Delta Brantas masa lampau. Sidoarjo yang kini berada di posisi muara sungai telah memainkan peranan strategis dalam tata kelola air dan ekonomi regional.
Prasasti Kamalagyan memperlihatkan sisi lain kepemimpinan Airlangga yang tidak hanya berfokus pada dinamika politik dan ekspansi militer. Penguasa tersebut terbukti mengutamakan penyelesaian masalah riil masyarakat melalui rekayasa infrastruktur hidrolika.