LINKARFAKTA.COM — Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau meluas hingga ke enam provinsi dan mencapai ketinggian 50.000 kaki pada Minggu dini hari. Paparan material letusan ini memicu pembatalan tiga jadwal penerbangan di Lampung dan sempat menghentikan operasional Bandara Soekarno-Hatta. Otoritas kini meningkatkan kewaspadaan jalur udara internasional di sekitar Selat Sunda dan Samudra Hindia.
Akibat sebaran partikel yang berisiko merusak mesin pesawat tersebut, sebanyak 3 jadwal penerbangan di Lampung resmi dibatalkan. Gangguan mobilitas udara ini menyusul penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta yang berlangsung pada dini hari yang sama demi keselamatan operasional.
Dua Lapisan Pergerakan Abu di Jalur Udara
BMKG mencatat sebaran abu vulkanik terbagi dalam dua lapisan ketinggian dengan arah embusan yang berbeda sejak pukul 02.00 WIB. Lapisan bawah bergerak dari permukaan hingga 20.000 kaki menuju arah Tenggara-Selatan, menyelimuti perairan Selat Sunda serta sebagian wilayah Banten dan Jawa Barat.
Lapisan kedua membentang dari permukaan hingga batas 50.000 kaki ke arah barat dan barat laut. Sebarannya mencakup Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, hingga membentang jauh ke Samudra Hindia di sebelah barat ketiga provinsi tersebut.
Mengingat lapisan 50.000 kaki melintasi koridor lalu lintas udara lintas negara, otoritas penerbangan langsung menjalin komunikasi intensif dengan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin di Australia untuk mengawal keselamatan pesawat yang melintas.
Kesiapsiagaan Daerah dan Bahaya Letusan
Pemerintah daerah di enam provinsi terdampak diminta berkoordinasi ketat bersama BPBD masing-masing guna memitigasi dampak kesehatan warga. Imbauan penggunaan masker serta pembatasan aktivitas di luar ruangan diserukan untuk menghindari bahaya infeksi saluran pernapasan akibat paparan debu vulkanik.
Erupsi terbaru sendiri tercatat kembali berlangsung pada pukul 03.53 WIB berdasarkan laporan resmi informasi letusan MAGMA Indonesia yang disusun petugas pengamat Rioboniek Situmorang. Tinggi kolom letusan belum teramati karena proses erupsi masih berlangsung saat laporan teknis tersebut diterbitkan.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan peringatan resmi kepada warga di sekitar kawasan rawan bencana:
"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat."
Aktivitas Siaga Tanpa Potensi Tsunami
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga). Tingkat aktivitas ini sudah berlaku konsisten sejak 2 Juli 2026 dan telah membukukan lebih dari 240 kali letusan.
PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk mengosongkan area dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Di sisi lain, instansi pemantau memastikan bahwa rentetan erupsi saat ini tidak mengarah pada bahaya gelombang laut tinggi.
Risiko terjadinya tsunami akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dinilai sangat kecil hingga nyaris nihil.